Kamis, 23 Juni 2016

Jika Suatu Saat Kita Membangun Rumah

Jika suatu saat kita membangun rumah, aku ingin ia bukan hanya sebuah ruang-ruang atau tempat kita mengorganisasikan keseluruhan barang-barang kita. Ia boleh saja berukuran sederhana, lebih kecil dibandingkan dengan rumah-rumah masa kecil kita. Ia mungkin tidak pula memiliki halaman luas di depan ataupun belakang rumah di mana kita bisa menanam berbagai pepohonan berbuah, atau ia mungkin tidak cukup memuaskan untuk menjadi tempat anak-anak berlarian, tidak cukup lapang dan berangin untuk menerbangkan layang-layang, atau ia tidak memiliki kemampuan menciptakan gema teriakan suara kita seperti dahulu kita bisa melakukan eksperimen sederhana mengenai pantulan bunyi sewaktu sekolah dasar. 

Jika suatu saat kita membangun rumah, jika saatnya telah tiba, aku ingin ia memiliki jendela-jendela yang berukuran besar serta pintu-pintu lebar, sehingga cahaya matahari dan angin bebas bertamu ke rumah kita. Ia tidak memerlukan banyak tembok ataupun pintu untuk memisahkan tiap ruangnya agar kita merasa lapang di dalamnya. Ia mungkin tidak perlu ruang tamu ekslusif yang luas untuk para tamu kita, namun kita akan memiliki sebuah ruang keluarga yang terdiri dari banyak bantal berbagai ukuran, dengan karpet-karpet, dan mungkin juga beberapa kursi empuk. Di sana tempat kita berkumpul satu sama lain sebagai keluarga. Kita bisa mempersilakan siapapun untuk berkumpul bersama dengan kita dan anak-anak, baik mereka adalah keluarga, saudara jauh, rekan kerja kita, atau teman-teman masa sekolah kita dahulu. Di sana, kita tidak hanya bisa berbincang, berbagi cerita, nilai, perasaan, dan rencana-rencana baik. Di sana kita kadang dapat pula bertengkar, berebut remote televisi, meresapi kembali keluh kesah, saling berbagi tawa, air mata, harapan, dan juga pelukan.

Kita mungkin tidak membangun rumah kita dekat dengan keluarga, jauh dari rumah orang tua kita. Namun, kita akan memiliki sebuah tempat untuk meletakkan foto-foto keluarga kita--Ayah, ibu, adik, kakak, dan ponakan-ponakan kita--agar kita tidak pernah lupa dari mana kita berasal, agar kita tidak lupa ke mana kita harus selalu pulang, agar kita selalu tentram karena kita sesungguhnya tidak pernah sendiri sebab ada doa-doa yang konsisten yang mereka serta kita pun panjatkan untuk saling bertemu dan menenangkan setiap kegelisahan dalam dada. 

Di salah satu ruang rumah kita nantinya, kita mungkin memerlukan sebuah kotak P3K untuk memberikan pertolongan pertama bagi keluhan fisik. Sayangnya, aku bukan dokter ataupun ahli farmasi--aku tidak akan banyak bisa diandalkan untuk urusan ini. Meskipun demikian, aku telah pelajari beberapa obat dari bahan-bahan bumbu dapur yang aku akan pastikan mereka ada di kulkas. Kita pun akan memiliki perkakas pertukangan sederhana. Seperti katamu, kamu telah belajar memperbaiki kerusakan kecil di rumah terkait hal teknis, sementara aku akan bertugas memastikan masakan yang akan kita makan. Bukankah begitu pembagian yang dahulu sempat kita bicarakan? Namun mereka semua akan kita letakkan berdekatan. Mungkin kotak P3K yang masih kosong dapat kita isi dengan tolak angin dan berbagai jenis minyak gosok berbagai kasiat karena kita akan saling memijat atau mengerik saja ketika lelah dan masuk angin.

Jika suatu saat kita membangun rumah, jika saatnya telah tiba, kita tetap akan menanam pohon-pohon seperti di rumah masa kecil kita dahulu, sekalipun pepohonan yang kita miliki kini adalah pohon-pohon jenis sukulen (kaktus) dan pepohonan yang dapat diakomodasi dalam media tanam atau taman vertikal yang tidak begitu memerlukan lahan. Tidak apa jika kita tidak memiliki kebun bunga. Kukatakan, aku tidak masalah dengan bunga artifisial berbahan plastik atau bunga kering lainnya. Namun, aku yakin kita bisa memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam anggrek ataupun tanaman hias lainnya dengan rumput-rumput yang dapat kita letakkan dekat dapur, halaman rumah, atau dalam rumah kita agar aku selalu berseri-seri ketika aku dalam masa bersungut-sungut. Rumah kita akan cukup segar dan sehat dengan hadirnya pepohonan tersebut.

Pada dinding-dinding rumah kita nantinya, kita juga akan memasang beberapa lukisan baik dekoratif, potongan dari majalah, atau lukisan bapakku selain jam dinding, kalender, ataupun foto keluarga dan liburan kita bersama anak-anak. Kita tidak boleh kehilangan apresiasi terhadap karya seni, meski kita tidak perlu menjadi penikmat seni yang harus membelanjakan uangnya untuk kebutuhan tersier ini. Kita pun akan memiliki ruang untuk meletakkan rak-rak yang berisi penuh buku, gabungan buku-bukumu atau buku-bukuku dan buku-buku yang kita koleksi dengan menyisihkan uang untuk membelikan anak kita buku-buku favoritnya dari masa mereka kanak hingga remaja, bahkan dewasa awal nantinya. Buku-buku berisi hikmah, pengetahuan, dan hiburan.

Jika suatu saat nanti kita membangun rumah, jika saat itu tiba, aku ingin rumah kita di bangun di lingkungan masyarakat yang kondusif dan bersahabat. Sebuah lingkungan yang dapat mensubtitusi eksistensi keluarga kita, terdapat seorang yang dituakan untuk kita jadikan tauladan dan mintai nasihat, ada rekan-rekan yang siap sedia membantu dan bersuka cita untuk diandalkan, dan terdapat teman-teman sepermainan bagi anak kita yang juga dibesarkan oleh keluarga yang kaya akan nilai-nilai. 

Rumah kita nantinya akan dibangun di dekat pasar tradisional agar aku bisa mendapatkan keperluan sembako dan dapur dengan harga terjangkau dan berkualitas. Ia dibangun dekat masjid-masjid yang ramai atau tempat-tempat ibadah agar kita secara fisik tidak pernah jauh dari simbol Tuhan dan anak-anak dapat belajar mengaji di sana, dan kamu dapat mengajarkan anak laki-laki kita salat berjamaah di sana. Rumah kita akan dibangun di dekat akses transportasi yang mudah agar kita tidak selalu menggunakna kendaraan pribadi, agar kita banyak mengobservasi kejadian, bertemu banyak orang, sering bersosialisasi, tidak kaku, dan dekat dengan kunjungan teman atau saudara-saudara yang hendak berkunjung, agar kita tidak selalu merasa sepi.

Jika suatu saat kita membangun rumah nantinya, jika saatnya telah tiba, aku ingin ia bukan hanya sebuah ruang-ruang atau tempat kita mengorganisasikan keseluruhan barang-barang kita. Ia tidak hanya sebuah ruang pertemuan bagi kesibukan aktivitas kita, melainkan ditengah hidup kita masing-masing yang dinamis dengan produktivitas masing-masing--kamu, aku, dan anak-anak kita--rumah adalah tempat jiwa-jiwa kita bertemu dan disegarkan. Aku ingin ia penuh gelak tawa, penuh nilai-nilai kebaikan, tempat kesalihan kita pelajari dan ajarkan, serta sumber ketentraman dan kesejahteraan batin. Apapun yang terjadi nanti, kita perlu untuk selalu bahagia dan setia satu sama lain. 

Kita akan membangunnya dengan kesabaran, keyakinan iman, dan syukur karena sebelum saat itu tiba, bisa jadi kita adalah sepasang kekasih yang membangun rumah tangganya dalam kamar kos untuk keluarga, apartmen, tinggal di rumah kontrakan, ataupun masih menempati rumah sederhana yang sekian persennya masih kita usahakan untuk mencicilnya tiap bulan. Semoga Allah meridhloi rencana kita, memampukan diri kita membangun rumah untuk keluarga kita nanti. Semoga kita dapat masuk ke dalam orang-orang yang diberikan keberuntungan yang besar dan mampu bersuka-cita dalam melakoni tirakat untuk menjadi seseorang yang memiliki keberuntungan besar itu.

Senin, 10 Agustus 2015

It is not easy to be a Me (Human)

Tidak mudah memang menjadi manusia
Reinhold Niebuhr, teolog Amerika mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat naluri yang condong pada kebenaran, keadilan, dan kebajikan. Namun, pada diri manusia ada juga naluri primitif yang condong pada sifat rakus, buas, dan  mengabaikan nilai kebenaran

Tidak mudah memang menjadi manusia
Mitologi yunani menggambarkan manusia sebagai Hermes (kata sesorang, tapi gak yakin juga :p), manusia berkepala dua. Salah satu kepalanya tertawa terbahak-bahak, sementara kepala satunya lagi menangis tersedu-sedu

Tidak mudah memang menjadi manusia
Menurut Sigmund Freud, dalam konstruksi kepribadian diri manusia terdapat id (nafsu/setan), ego, dan super ego (hati nurani/malaikat), yang mana antara id dan super ego akan saling tarik menarik dan ego akan menjaga keseimbangannya

Tidak mudah memang menjadi manusia
Dia tidak hanya makhluk jasmani, tetapi juga rohani
Dia tidak hanya makhluk individu, tetapi juga sosial
Dia tidak hanya hidup sebagai manusia, tetapi juga makhluk hamba Tuhan
Belum lagi peran-peran dan statusnya yang spesifik dan kompleks

Tidak mudah memang menjadi manusia,
Al-Quran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik kejadian, tetapi mereka juga bisa terlempar ke kubangan kehinaan yang serendah-rendahnya. Mereka adalah khalifah di bumi, yang memelihara dan menjaga bumi, tetapi juga rentan terhadap nafsu dan godaan iblis. Sedangkan Al-Kitab menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari citra Allah, yaitu semulia-mulianya makhluk, tetapi karena kebodohannya sendiri mereka terdepak dari surga.

Tidak mudah memang menjadi manusia
Entah Plato atau mungkin Aristoteles  menyebut manusia sebagai binatang berakal, animal rationale
dengan akalnya iya mampu menjadi "binatang" yang berharga, bermanfaat, dan berbudi sehingga semakin meningkat derajat, harkat, martabatnya. Atau mungkin justru dengan akalnya, bisa membuat manusia menjadi binatang yang paling buas.

Tidak mudah memang menjadi manusia,
Manusia adalah makhluk yang dilematis
Manusia memiliki free will untuk menentukan dirinya sendiri
Baik atau buruk, benar atau salah manusia sendirilah yang menentukan, tetapi karena banyaknya peran, status, dan kepentingan manusia menjadi makhluk yang paradoks dan tidak jarang menjadi hipokrit.
Hasilnya adalah, memang tidak mudah menjadi manusia
Maka dari itu, manusia sudah harusnya terus berbenah tidak ada hentinya, karena pada dasarnya kejahatan dan kebajikan amatlah dekat dengan diri manusia. Manusia yang baik adalah berusaha terus berbenah dan menjadi lebih baik dan pemaaf terhadap kesalahan orang lain dan terhadap kesalahan dirinya sendiri pula. Karena manusia tempat salah pula yang perlu kita maklumi.

Ujian yang Gagal

31 Maret 2012 (Ketika Sedang Skripsi)

Kesimpulan kajian pagi ini adalah "bersegeralah berbuat kebaikan"
Kita perlu gunakan kesempatan untuk berbuat baik, selagi itu datang pada kita, karena tidak semua orang memperoleh kesempatan, bahkan hanya kesempatan untuk berbuat baik. Maka ketika kesempatan itu datang, janganlah ragu-ragu untuk berbuat kebaikan. Hidup hanya sementara, kehidupan kekal adalah akhirat dan untuk mempersiapkan kehidupan yang kekal bernama akhirat itu kita perlu mempersiapkan bekal.

Saya mengangguk-anggukan kepala diantara puluhan kepala yang ada di sana tanda bahwa saya telah paham maksud yang disampaikan ustadz. Lalu sempat saya meringis ngeri dan pikiran tiba-tiba takut mati menghampiri. Ada pikiran buruk kalau-kalau waktuku sudah dekat, kalau akhirnya mati sebelum tahun ini berakhir. Aku benar-benar takut dan sedih karena rasanya 3 bulan ini di tahun ini adalah waktu yang sangat krusial. Saat ini skripsi belum selesai. Ya, paling tidak kalau aku mati jadikanlah aku lunas dengan tanggung jawabku. Tanggung banget kalau hidupku berakhir sebelum skripsi selesai berasa ada tanggungan yang belum tuntas, padahal udah bayar SPP dan BOP (lagi) semester ini karena perpanjangan skripsi. yaaa paling tidak mati sarjana lah (astaghfirullah)...

Pengajian pun usai, aku sarapan, pergi ke toko buku, membeli buku yang relatif murah (belasan ribu saja), pulang, membaca buku itu sampai khatam, tidur siang, dan makan enak. Dan seperti biasan aku lupa dengan semua kajian yang aku dapat pagi ini. Tapi Tuhan tidak pernah lupa T____________T. Aku pun dites oleh-Nya dan aku pun gagal (lagi-lagi), sekarang aku menyesal. Aku malah sudah berbuat buruk pada bapak dan ibuku, sekarang mereka pulang ke rumah, aku ditinggal sendirian, aku menyesal tapi sesal memang selalu datang belakangan. Semoga masih ada kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Aku menyesal, aku kecewa dengan diriku sendiri. Waaaa, bodoh sekali! Kenapa aku tidak pernah sungguh-sungguh dewasa dan sabar, kenapa aku tidak bisa mengalah. Tuhan, Allah, Please, beri aku kesempatan sekali lagi agar aku tidak penasaran. Besok lagi aku harus mampu mengamalkan gak cuma paham-paham aja. Beri kesempatan ya Allah, beri kesempatan ya Allah, beri kesempatan ya Allah dan bantulah aku mengamalkan. HAMASAH! (ketoke artine adalah SEMANGAT). Tolonglah aku untuk memperbaikinya, beri kesempatanlah, dan mudahkan kedepan untuk selalu ingat.

L-O-V-E, LO-VE, LOVE

11 Apri, 2012

I can't sleep then I start to read:
Tidak cukup hanya mencintai dengan berkata, " Aku cinta kepadamu," melainkan seseorang juga harus mampu berucap, "di dalam dirimu, aku mencintai semua orang dan melalui dirimu, aku mencintai seluruh dunia, bahkan di dalam dirimu aku mencintai diriku sendiri (Erich Fromm,1956)

I can't sleep then I start to think:
Physical attractiveness  memang tidak bisa dipungkiri menjadi determinan eksternal dalam menuntun kita memutuskan menyukai,bahkan secara ekstrem, mempengaruhi keputusan untuk menikahi seseorang. Akan tetapi, cinta yang paling tidak dapat dipercaya adalah cinta erotis. Passion, gairah, hasrat  tidak dipungkiri menimbulkan kenikmatan, kesenangan, dan candu dalam bercinta, tapi tidak selamanya ada. Cinta tidak melulu didominasi komunikasi yang seksual dan sensual. Bahwa ketulusan, kebaikan, kesantunan, dan kesungguhan, serta kematangan dalam berkomitmen seorang laki-laki adalah yang utama. Bukan berarti menolak terhadap daya tarik fisik atau seksual. Itu memang diperlukan, tetapi tidak ultimate. Atau orang dengan diplomatis sering mengatakan, "Dia tidak perlu menarik, cantik/ganteng di mata orang-orang, tetapi dia harus cantik/ganteng di mataku" Hal ini menekankan mengenai faktor subjektivitas dan relativitas daya tarik itu.

I can't sleep then I start to wish:
Betapa beruntungnya wanita yang sudah mantap dengan dirinya, punya pendidikan dan pekerjaan yang baik, cukup berkembang dan beraktualisasi diri. Di tengah semuanya itu, datang seorang laki-laki yang serius ingin membangun hubungan dengannya. Laki-laki yang bertanggungjawab, laki-laki yang berhati kuat (kau melihatnya dari caranya menghadapi krisis dalam hidupnya) dan penyanyang. Serta lelaki yang menginginkanmu, mendukungmu tumbuh dan berkembang menjadi diri dan pribadi yang kau inginkan, menjadi pendampingnya, dan pada akhirnya menjadi ibu dari anak-anaknya (jika beruntung). Dia tidak pandai berbasa-basi atau melakukan negosiasi perasaan dengan baik denganmu dalam masalah perasaan ini. Dia sudah memutuskan, walau bersamamu berisiko untuk mendapat susahnya maupun bahagianya.  Dia juga punya selera humor yang lumayan jadi dia selalu punya cara membuat stand up comedy untuk hidup yang memang tidak selalu mulus. Dia tidak suka mengeluh, dia memang sederhana, tapi dia sama sekali tidak bodoh. Dia punya reputasi yang baik dalam meredam kebimbangan, keraguan kehidupan bersama Tuhan. Dan laki-laki ini berbuat baik dengan bapak,ibunya serta saudaranya.

Ya mungkin saat ini, sulit dipercaya. Dia hanyalah seorang bujang dan wanita itu bukan seorang yang bijak, berantakan, dan memiliki antusiasme yang bahkan random. Kalau dilihat-lihat masih banyak yang perlu diperbaiki di sebelah sana dan sebelah sini. Mungkin saat ini baru ada cerita-cerita yang kadang membosankan dan itu-itu saja, gaya bercerita dan menanggapi yang sejak dulu dipertahankan walau jadul. Akan tetapi, keintiman emosi terkadang muncul dari hal-hal sepele itu dengan gampangnya dan di luar kendali pelakunya. Ini bukan rencana dan reka-reka sejak awal. Dan dia seolah mengerti bahwa semua proses ini butuh waktu, tahu persis bahwa perasaan ini tumbuh membutuhkan kesabaran, dan tidak ada yang boleh tergesa-gesa dengan ini. Semuanya serba begitu saja, mudah, dan berjalan dengan baik dan tentu saja benar. Keduanya adalah orang yang biasa-biasa saja, tidak memiliki banyak hal yang spesial, tidak membanggakan apapun, tapi cita-cita baik itu ada dan harapan menjadi orang yang beruntung itu pun selalu ada.

Hahaha, beginilah ceritanya, memang suatu saat itu akan datang juga cepat atau lambat. Benar cepat atau lambat, akan datang juga. Saat ini atau nanti sama saja. Jika tiba saatnya, segera dan buatlah keputusan tanpa ragu-ragu.

Mengobservasi Hujan

Dulu aku menulis ini pada awal Juni 3 tahun yang lalu,
Untuk seseorang yang sempat dekat dan aku menaruh hati padanya
Aku bahagia karena sebentar lagi, kau akan menghujani dan membasahi lahan yang tepat, Lahan impianmu, sementara aku di sini sudah berteduh dan berbahagia dengan hujan yang lainnya :')


Di seberang jalan sana, aku melihat hujan berjalan mondar-mandir saja
Di seberang jalan sana, aku melihat hujan taktentu arah jatuhnya, taktentu intensitasnya
Beberapa kali tampak ia menyebrang ke arahku, tetapi belum mengenai sisi di mana aku berdiri, ia malah kembali menepi di seberang jalan sana.
Maka aku tutup payung yang tadi aku bentangkan dan kuselipkan lagi di balik tas
Aku melanjutkan berjalan di sisi sebelah aku tadi berdiri dan hujan masih gemericik di seberang jalan, bahkan membuat beberapa genangan di jalan aspal berlubang seberang jalan itu.
Tiba-tiba, aku mendengar suara hujan menjadi begitu dekat, tetapi saat aku alihkan pandangan ke seberang jalan, hujan sudah tidak berjalan-jalan di situ. Aku menengok ke belakang karena aku merasa dia semakin begitu dekat saja dan suara langit bergemuruh di atas kepalaku. Ia mengikutiku, persis di belakangku. Jalanan dan rerumputan di sepanjang jalan yang aku tinggalkan, basah sudah.
Maka aku pun berhenti, jika memang hujan menginginkan aku, dia akan menangkapku dalam kebasahan
Namun hujan pun berhenti persis di belakang kepalaku, ia jatuh di situ saja.
Aku menunggu dan menunggu terus, tapi sejak tadi ia hanya terus-terusan di situ,tepat di belakangku. Menyentuh kepalaku pun saja tidak. Rasanya ia tidak sungguh-sungguh. Maka aku pun kesal dan berlari menuju sebuah mini market, ia mengikutiku tapi aku enggan peduli. Aku masuk dan hujan pun mengantarku sampai depan pintu.
Kulihat kaca pintu mini market yang berembun, maka aku gesekkan jari telunjukku ke situ, aku memulai membuka percakapan antara kita. Dengan lapang dada, aku tuliskan, " Hujan, mampirlah nanti sepulang aku dari sini. Aku akan memakluminya. Mungkin kita ingin saling bicara?" (aku berharap hujan tidak buta huruf!)

~Awal April~

dari bejuta-juta hujan yang pernah turun dalam hidupku, kau berbeda
berjuta hujan kudiamkan,
berjuta hujan kubiarkan berlalu, aku takpeduli.
beberapa yang lain sering aku kutuk karena menyebalkan sungguh: membuat aku basah, membuat sepatuku basah, membuatku membatalkan janji, becek, berisik, dan dingin

tapi sekarang berbeda, aku berpaling padamu
ada sebuah simpati padamu (kurang lebih begitu)
tidak pernah aku lihat hujan turun dengan ragu-ragu
tidak pernah aku dengar hujan bergemericik cemas dan tergesa
hujan bulan April : turun seperti hujan yang tersesat di musim kemarau

Satu dua kata terucap. Aku pikir itu kata asal yang mungkin telah kau coba persiapkan, tapi kamu pun sungguh tidak begitu peduli dengannya dan apa tanggapanku nantinya. Yang kutangkap kau mencoba menjadi seperti dirimu, hujan, basah. Pun demikian, kamu ingin aku bis terlibat dan bercakap denganmu.
Lama aku amati, terus aku dengarkan dan aku memang tidak mengenalmu. Seakan kita memang tidak merencanakan ini, tidak peduli apapun yang kau bicarakan, tidak peduli bagaimana tanggapanmu. Kita terus saja saling cerita dan menanggapi. Aku hanya tidak ingin pergi, kurasa kau pun begitu. Aku tidak tahu apa yang menahanku. Mungkin ceritamu, tapi tidak juga. Demikian pula dirimu enggan untuk berhenti. Kita sudah lama di sini dan kita sungguh belum pergi dari sini. Tapi meski banyak sudah bercerita kamu hanya menceritakan dirimu, aku pun hanya membicarakan diriku untuk basa-basi di awal agar terlihat sopan. Lalu kapan kita membicarakan kita? iya, kita. kita adalah aku dan kamu.
uups, tiba-tiba itu terlintas saja di pikiranku. Ada yang salah ya rasanya. Iya aku tahu. Tapi sungguh aku tidak bisa melihat kau pun begitu. Sulit sekali ya? Hha, aku tetap saja tidak mengenalmu.

Setengah mati aku ingin bilang:
sebelum saatnya kita saling membuka diri,
sebelum kita saling mengucap kata
sebelum kita mulai lebih akrab
jika kau mau, tunggulah sebentar, aku punya sesuatu yang pahit, sedikit kopi untukmu dan untukku
lalu akan aku buatkan kopi untukmu dari cangkirku
dan akan aku seduh kopiku dengan cangkirmu
agar engkau tau rasanya menjadi aku
dan agar aku tahu rasanya menjadi hujan
(ah, tapi cuma tertahan di tenggorokan, aku tidak bernyali)

Kisahnya tergantung ya...
Sungguh-sungguh depends on...

Ah, hari sudah agak petang dan aku yakin kaupun sudah bosan menjadi hujan seharian dan aku bisa-bisa masuk angin kalau kelamaan denganmu. Ayo pulang!
Kita tunggu saja pelanginya. Tapi asal kau tahu saja, dari ratusan hujan yang pernah turun dalam hidupku, aku sudah banyak belajar bahwa pelangi takselalu muncul seusai hujan. Aku tidak mudah untuk kecewa.

diakhiri lagu I will Always Love You

And I...Will always love you
I Will always love you.....
I hope life treats you kind 
And I hope you have all you've dreamed of 
And I wish you joy and happiness 
But above all this I wish you love....

Minggu, 09 Agustus 2015

Menulis lagi

Bagus tidaknya tulisan bukan dinilai dari kekuatan atau kemampuannya untuk meyakinkan. Berhasil tidaknya tulisan dinilai dari kekuatan kemampuamnya untuk membuat Anda terlibat, berpikir, serta memberi kilasan mengenai isi kepala orang lain--bahkan jika pada akhirnya Anda simpulkan bahwa kepala orang lain itu bukan tempat yang Anda ingin datangi
well said, Malcolm Gladwell, my favorite writer.

Benar, menulis adalah mencoba membuat kajian atas objek atau isu dengan perspektif yang takterbatas. Bisa fiktif maupun nonfiktif, objektif maupun subjektif pada substansinya. Membaca tulisan-tulisan adalah berpetualang atau berwisata pada isi kepala orang lain.


Aku akan mulai menulis blog lagi, untuk sarana semacam ziarah dari gagasan atau pandangan pribadiku dari waktu ke waktu.

Minggu ini, beberapa tulisan lampau dari berbagai tempat akan aku pindahkan ke sini. Biar lebih terintegrasi dalam menilik perkembangan interest dalam hidupku. Baik isu dalam ranah umum, maupun mungkin personal.

Selamat kembali menulis blog, hehe

Anyway, tinjauan psikologis pun mendukung bahwa kegiatan menulis menyehatkan, bahkan direkomendasikan. Terlepas dari apapun bunyinya. Lebih lagi, menulis ekspresif maupun naratif dapat menyembuhkan (menjadi terapi) bagi berbagai masalah psikis mulai dari menghadapi kematian, hingga membangun citra diri yang lebih positif. Karena beyond teknis, menulis tidak hanya proses beradunya huruf menjadi kata, kemudian menjadi rangkaian kalimat-kalimat yang dipaparkan. Akan tetapi, proses dari kita me-recall kejadian atau pengetahuan, merekonstruksi ulang pengalaman dan informasi (termasuk mengoreksi pengalaman), kemudian menjadikannya bermakna.

Oke, berasa jadi orang jual kecap jadinya (e pada "kecap" dibaca seperti pada kata "benar" a.k.a jual omongam hhe). Kita sudahi saja tulisan pembuka ini.

Jumat, 08 Februari 2013

Sebuah Perjalanan di Akhir Tahun 2012

Ya Tuhan, Aku tertawa kecil, hanya diriku yang tahu bahwa aku sedang tertawa, mungkin ini yang dinamakan bahagia dan bahkan angin pun kurasa tidak mampu menangkap bahwa pipiku menegang, bersemu merah sore itu. Aku benar-benar, mungkin bahagia--Ya, bahagia yang kesekian dari kebahagiaan-kebahagiaan biasanya--God, thank you very much. Aku tidak mampu menjelaskannya melalui kata, warna, dan emosi yang aku miliki. Rasanya itu.....Ah, seperti ratusan biji yang bersemi, ratusan kuncup yang berbunga, ratusan cericit anak burung yang menyambut matahari dan kedatangan induknya, ratusan kawanan burung yang pulang ke rumah di pepohonan puncak bukit atau pinggiran hutan di kala senja, ratusan cahaya yang kehangatannya menerobos melalui celah-celah, siutan angin yang terus bergerak merendah menjumpai dataran-dataran rendah, namun membawa kerinduan pada pegunungan, dan berkubik-kubik aliran air di anak-anak sungai yang girang dan terus bergerak karena merindukan samudera. 

Semua tanggungan telah aku tunaikan sebaik-baik kemampuanku. Aku akan berkemas, itu yang aku tahu, untuk sebuah perjalanan yang tentu tidak akan selamanya, bahkan terlalu singkat. Tapi perjalanan ini lain, aku merasakannya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ini tidak akan berhenti di sebuah kota dan kemudian berlanjut ke kota-kota berikutnya. Perjalanan ini juga bukan sekedar menemui manusia-manusia yang sudah lama aku kenal dan baik padaku yang bernama teman-handai tolan, atau saudara. Di tiket itu bertuliskan bahwa jadwal keberangkatan kereta yang akan membawaku adalah pukul 20.00 WIB. Aku mengambil uang seperlunya. 

Aku pun lalu membuka buku paling tabu yang lama aku benci dan sembunyikan di bawah kolong tempat tidur. Aku membacanya kembali: sebuah rencana yang telah lama membuatku merasa ketakutan sendiri, yang dulunya aku tulis dengan perasaan yakin gak yakin. Tiba-tiba aku sinis pada diriku sendiri, ah, aku sangat yakin bahwa aku selama ini hanya ikut-ikutan atau sekedar terprovokasi buku-buku atau cermah orang-orang yang mengatakan bahwa kita perlu menuliskan dan merencanakan mimpi dan cita-cita kita sampai sedetil-detilnya. Aku mencoba melakukan review terhadap jalannya hidupku sesuai dengan yang aku tuliskan di buku itu dan hasilnya: TARA...beberapa target berhasil aku capai, beberapa target juga gagal aku capai, pun ada juga target-target di luar harapan dan rencana yang justru dicapai. Sudahlah, aku menilai menulis apa yang kita targetkan sampai detil itu tidak terlalu penting, yang terpenting aku tahu tujuan besar dari hidupku. Bukankah selama ini, baik kegagalan, keberhasilan, dan pencapaian yang tidak disengaja itulah yang menjadi jalan dan mengantarku pada tujuan yang terpenting dalam hidup nantinya. Maka aku menjadi tidak mudah bersedih hati menerima ketidaktercapaian keinginan, dan mudah merasa wajar dan tidak mudah terheran-heran dalam menerima kejutan-kejutan hidup. Lalu sesekali aku menyesal bahwa aku sudah banyak bersedih untuk kegagalan-kegagalan kecil dan melupakan hal-hal yang sama sekali tidak kecil yang pernah aku raih, bahkan sama sekali tidak pernah aku pikirkan akan aku raih. Harusnya aku dahulu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hari ini. Lalu diam-diam aku berjanji dalam diri: mulai sekarang aku tidak akan terlalu mengkhawatirkan masa depan!

Satu, dua barang masuk ke ransel. Semua sudah hampir terkemasi. Mungkin sudah ada yang menungguku di sana, entah siapa saja, entah apa saja. Lalu aku menuliskan beberapa tujuan hidupku yang lebih jelas daripada sebelumnya pada salah satu halaman di buku itu. Aku menulisnya dengan menyebut nama Tuhan agar aku sadar untuk bisa menerima apapun nanti hasilnya. Puluhan wajah terbayang: bapak; ibu; adik-adikku; teman-teman; manusia-manusia baik selama ini yang banyak membantu dan menginspirasi, puluhan kejadian terbayang, puluhan cerita-cerita terbayang. Satu, dua, tiga, empat, lima hal aku tuliskan sebagai pengharapan baik untuk diusahakan mulai dari sini, dimulai dari perjalanan ini yang entah akan membawaku ke mana saja, menjadikanku bertemu manusia-manusia baru seperti apa saja, dan mengalami kejadian-kejadian apa saja nantinya. Aku menyebutnya sebagai proyek pribadi, tidak ada yang "wah" di dalamnya, tapi rasa-rasanya aku akan menyukainya.

Maka aku mengawalinya di sebuah harii yang telah ditentukan. Aku duduk di kereta yang akan membawaku ke sebuah "kota permulaan untuk segalanya" dengan hati mantap dan memeluk rencana-rencana hidup yang penuh lompatan kejutan di dalamnya. Aku memangkunya dengan tenang, tetapi rencana di balik waktu, tempat, manusia yang akan aku temui, dan seluruh kejadian yang diatur Tuhan, sama sekali tidak sedang diam dan tenang. Mereka terus bergerak mengikuti yang sudah dgariskan. Semoga semuanya membawa pada kehidupan yang lebih baik, bagi aku, kamu, dan kita semuanya. 

Terimakasih Tuhan, Terimakasih Tuhan, Terimakasih Tuhan untuk segalanya.
Bantulah aku dalam perjalanan ini, dimulai dari sini dan berlanjut pada perjalanan-perjalanan baik lainnya.
Perjalanan bukan semata-mata perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain,bukan pula perpindahan dari satu pengalaman atau pekerjaan yang satu ke yang lainnya, tetapi perjalanan yang paling esensi: peningkatan kualitas dan perbaikan pribadi, semoga :). Jika aku beruntung, dalam perjalanan kali ini aku akan menemukan seorang teman perjalanan dan dijadikan-Nya mudah mencapai tujuan dari banyakknya perjalanan yang akan ku (kami) tempuh.

Aku tidak pernah mengenal diriku sebaik Engkau mengenaliku. Aku adalah ciptaanmu, Engkau adalah Tuhanku. Maka berilah aku pertolongan dan petunjuk dalam perjalanan ini.

Lelaki pertama yang menyentuh hatiku :')


Aku baru 13 tahun, ketika aku baru saja menyelesaikan tugas editing beberapa naskah yang akan kami masukkan ke dalam majalah sekolah sore itu. Sudah 3 bulan ini aku berturut-turut ditarik dari anak ekskul mading yang biasa aja menempati status-status sosial baru dan mungkin paling prestige mengalahkan ekstrakulikuler lain, bahkan anak-anak pengurus OSIS di sekolah, yaitu menjadi crew majalah sekolah dan klub bahasa inggris yang aku lupa namanya, bagus! Dari semua kekerenan, popularitas, mudahnya aksesabilitas, fasilitas, dan mungkin ekslusivitas, asal tahu saja hal itu menjauhkanku dari anak-anak mading yang kadang kala menimbulkan curiga, kecemburuan, dan rerasan padahal ekstrakulikuler mading adalah wadah pertama yang mengasah kemampuan kepenulisan kami, pun di sana terlalu banyak romantisme untuk dilupakan. Sejak masuk klub bahasa inggris sekolah pun justru setiap lomba gak pernah menang lagi. Begitulah ketidakjelasan anak-anak SMP, masa-masa puber pertamanya.... (tapi bukan ini cerita tentang laki-laki itu)

Sore itu gerimis tipis, aku biasanya pulang berjalan kaki ke rumah yang jaraknya 2 kilo, tapi khusus sore itu aku mau dijemput saja
Aku pun pergi ke wartel samping sekolah dan men-dial 0822749438 (masyaallah aku masih ingat nomor ini, ckckck), kemudian...
Orang rumah: Halo, Lamleykum (aksen khas asisten rumah tangga kami)
Aku: halo, waalaikumsalam yang ada di rumah siapa? aku minta jemput tapi gak mau kalau dijemput mbokde! (mbokde: sebutan untuk asisten rumah tangga yang memang suka njemput waktu SD dan awal-awal SMP membawakan payung hujan-hujan karena aku tidak membawa payung ke sekolah. Tapi lucunya aku dijemput dengan jalan kaki juga karena mbokdeku yang dari gunung kidul karena letak geografis yang gunung-gunung gak pernah bisa naik sepeda atau naik motor, jadi jemputnya jalan -_-. Lalu aku akan dibawakan sandal jepit, sepatuku dimasukkan ke dalam tas plastik, dan tas sailormon warna hijauku pun akan pindah ke lengan atau punggungnya--tergantung suasana hatiku sedang menyeting versi slempang atau gendong tas itu, kami masing-masing memakai payung sendiri dan di sepanjang perjalanan mbok de bilang aku akan dibuatkan sambel super pedas sampai rumah nanti. Betapa brengseknya aku dan beruntungnya aku. Mbokde, aku kangeeeen!
Orang rumah: Bapak sudah di rumah, jemput pak e aja yo, nul (begitu mbokdeku suka manggil aku, "Nul" bahkan jauh-jauh sebelum bak inul daratista nongol di TV)
Aku: Yaaa....
Percakapan telepon pun usai, aku bayar 700 rupiing.

Gerimis semakin tipis dan sore semakin berwarna kuning kecoklatan, tetapi belum benar-benar oranye. Sepertinya langit tidak merencanakan hujan yang sungguhan. Tiba-tiba teman sekelasku yang paling cantik sesekolahan nyari-nyari aku dia bilang aku dicari seorang pria. Ah, pasti itu bapakku. Aku pun berkemas, pamit ke pak guru komputer yang masih nge-layout, dan berlari turun.

Aku kaget karena melihatmu menunggu di depan gerbang sekolah dengan sepeda entah milik siapa. Katamu, tadi seorang teman berwajah ayu menawarkan bantuan memanggilkanku turun. "Iya, itu perempuan paling cantik di sekolahan ini, tapi sayang suka ramai kalau guru nerangin di kelas dan sering liat kerjaan teman, but overall, she's good!", Kataku. Lalu pembicaran tentang wanita cantik kita pun dimulai.

Aku: Katanya, kalau perempuan cantik, dia tidak pintar. Sebaliknya, perempuan pintar pasti dia kurang cantik (aku mulai berteori sambil berusaha duduk di boncengan sepeda)
Kamu: (Menggeleng dan sedikit mencibir) Aku kenal dengan wanita cantik sekaligus pintar
Aku: Siapa? apakah kita mengenalnya? Setahuku tidak ada.
Kamu: Ada. Perempuan yang aku boncengkan ini
Aku: (menarik lenganmu dan menunjuk ke arah hidungmu) Aah,Bohong! aku kan gendut, banyak jerawatnya...(Aku tertawa cekikikan, tapi wajah di depanku sepertinya sungguh-sungguh mengatakannya jadi aku lebih baik menutup mulut) Terserah, tapi cermin di rumah kan tidak akan berbohong.
Kamu: (mulai mengayuh sepeda) Lihat saja nanti, suatu saat kamu akan mempercayai ucapanku hari ini.
Aku : Kapan saat itu?
Kamu : Ketika nanti kamu sudah dewasa
Aku : Aku sudah mesntruasi, berarti kan aku sudah dewasa
Kamu : Bukan, bukan seperti itu. Besok kamu akan mengerti sendiri. Sulit memang kalau dijelaskan sekarang. Pun ketika saat itu tiba ini bukan hal penting lagi, tapi itulah pengharapanku padamu. 

Kita pun tidak berkata apa-apa lagi. Aku tidak mengambil dalam-dalam ucapanmu, tapi entah mengapa ada sesuatu yang yang basah dan hangat melewati pipiku-Ya, ampun masak menangis. Di perjalanan pulang itu, kita lewati lapangan dengan rumput-rumput ilalang yang cukup tinggi dan dipenuhi kupu-kupu berwarna abu-abu ungu berukuran kecil, kusandarkan kepalaku ke punggungmu dan kuremas-remas ujung bajumu sambil ingin terus aku percaya ucapanmu itu. Bagiku saat itu, tidak penting lagi menjadi cantik atau pintar, tapi lebih baik menjadi dicintai olehmu, bapak :')

Dan ini sudah hampir 10 tahun sejak saat itu, aku tidak pernah benar-benar cantik dan pintar tentu saja hahaha...
Tetapi bapak banyak berubah, dulu bapak galak suka marah-marah, tetapi aku yang kelewat berengsek memang cukup pantas dibegitukan.
Tanggal 30 bulan ini kita berulang tahun, I wish you all the best and wanna say thank you so much buat segala-galanya: Ibu yang galak, tapi lumayanlah, adik yang baik, rumah yang nyaman dan penghidupan yang layak, dukungan spiritual, materi, dan selalu membesarkan hati :)
Seumur hidupku hidup sama Bapak, jadi anak Bapak, aku semakin sadar Bapaklah kado terbaik yang tidak pernah aku minta pada Tuhan.
Sebenarnya aku selalu penasaran, apakah Bapak pernah berpikir begitu juga, 23 tahun yang lalu?
Jadi beritahu aku bagaimana rasanya, anak pertamamu, seorang anak perempuan lahir tepat di hari ulang tahunmu?

Berlayarlah ke Muara


Waktu masih kanak-kanak, kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali:
Alirnya sangat tenang dan perahumu bergoyang menuju lautan
"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua.
Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala 
(Perahu Kertas, Sapardi Djoko Damono, 1982)

Perahuku, sudah aku hanyutkan dari hulu dengan penuh harap cemas mencapai hilir dengan sebaik-baiknya. Semoga ia sanggup membawaku menempuh puluhan perjalanan, bertemu banyak orang, mendengar dan mengumplkan cerita dari orang-orang selama perjalanan atau di setiap persinggahan, serta mencintai dan setia dengan teman seperjalananku.

Apakah kau takut? Mungkin
Apakah kau cemas? Sedikit, iya aku cemas dengan ini
Tugas kita berlayar ke muara, jangan khawatir kau akan menyukainya, kita akan bahagia.
Kemasilah harapanmu ke dalam perahumu, berdoa-doalah dan berbekal restulah dari orang-orang baik dan pelan-pelanlah mari berlayar. Jika kau masih ragu, setidaknya dengan berlayar kau akan melihat purnama, bintang, dan kebaikan matahari yang sesungguhnya atau akan kau saksikan betapa luasnya lautan, betapa luasnya langit dan betapa Maha Luasnya kasih Tuhan yang meliputi segalanya: melebihi lautan, melebihi langit, mencakup alam semesta dan lebih luas lagi

Tentang Menjadi Gila


Seorang dokter ahli jiwa yang bijaksana pernah berkata kepada seseorang yang menanyakan keadaan *pasiennya, "Jika saya mampu mengulurkan tangan saya dan mengembalikannya ke dalam dunia nyata, saya tidak akan melakukannya. Ia lebih bahagia dalam kegilaannya."

*(pasien tersebut wanita yang kehidupan pernikahannya adalah tragedi. Ia menginginkan cinta, kepuasan seks, anak-anak, dan prestise sosial, namun kenyataan hidup menghancurkan segala harapannya. Suaminya tidak mencintainya, suaminya kasar, dia tidak memiliki anak, dan dia tidak memiliki kedudukan sosial. Lalu sekarang, dalam keadaanya yang gila, dia menggunakan kembali nama gadisnya, meyakini telah menikah dengan seorang Aristokrat Inggris, meminta dipanggil Lady Smith, dan selalu menceritakan bahwa dirinya semalam melahirkan anak)

Tentang menjadi gila
Menjadi gila, setengahnya dapat dikaitkan dengan kerusakan organis terkait dengan sel-sel otak manusia (bisa jadi karena cedera otak, alkohol, toksin, dsb), namun yang menjadi menarik separuh lainnya dari manusia menjadi gila sama sekali tidak ada kaitannya dengan kerusakan organis sel-sel otak tersebut, bahkan beberapa pengujian post-mortem, ketika jaringan otak mereka diteliti, jaringan-jaringan ini ternyata ditemukan sama sehatnya dengan milik Anda dan (mungkin juga) saya. Pada umumnya, pendekatan ini disetujui, bahwa kebanyakan orang menjadi gila karena mereka memperoleh apa yang mereka inginkan dalam kegilaan mereka, yang tidak mampu mereka peroleh dalam dunia nyata. Jadi semacam dengan gila, seseorang membuat kesadaran baru di mana dia bisa melarikan diri dari permasalahan-permasalahan hidup (red: masalah= das sein vs das sollen) serta memperoleh apa yang menjadi hasrat serta keinginannya. Kurang lebih begitu. Intinya menjadi gila, bagi beberapa orang merupakan kecacatan manusia dalam menghadapi realita.

Lalu bagaimana agar aku tidak gila kapan-kapan nanti atau bisa jadi saat ini?
Iya, sih hidup di dunia ini semua dan apa-apa yang kita inginkan, apa-apa yang menjadi harapan memang tidak akan semuanya terwujud. Pun hidup di dunia ini kan sebenarnya hanyalah ujian, baik senangnya maupun susahnya, baik euforia maupun problematikanya serta penuh dilematika. Bukankah Tuhan dalam firman-Nya disebutkan bahwa 
[2:155] Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
 Lalu di firman yang lainnya Tuhan menjanjikan bahwa semua ini hanyalah sementara, baik kesedihan maupun kesenangan, semuanya akan cepat berlalu, dan hadir silih berganti dalam hidup ini. Makanya orang-orang tua sering bilang, harusnya rasa itu dijaga untuk tetap "samadya", tetap sederhana baik waktu susah maupun gembira.
[57:22-23] Tiada bencana yang menimpa di bumi (dan tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum kami menciptakannya (mu). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan demikian) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Jadi memang lumrah seperti itu, hidup itu penuh ujian baik dengan kesenangan maupun duka lara, tetapi selalu ada cahaya dan pertolongan Tuhan. Bukankah sesungguhnya pertolongan Tuhan itu dekat? Tuhan itu Maha Baik dan Penyabar dan mengiginkan kita untuk sabar pula menghadapi ujian baik dengan doa-doa, pengharapan baik, serta usaha yang gigih untuk keluar dari permasalahan. Akan tetapi semuanya akan sulit jika tidak ada IMAN dalam diri kita. Iman sepertinya adalah kunci yang tepat untuk hidup bebas dari penyakit gila dan kunci untuk selalu hidup dalam kebaikan baik ketika suka maupun duka. Tetapi, kan masalahnya hati itu mudah terbolak-balik. Seseorang yang telah beriman dan sedang baik-baiknya keadaan imannya bisa saja loh kembali pada diri yang hina, demikian sebaliknya orang yang bedjat, kotor, super berengsek bisa menjadi seorang yang kemudian beriman. Terserah Tuhan, Terserah kehendak-Nya. Iya, kan? kan disebutkan bahwa Tuhan memberikan cahaya iman kepada siapapun yang dikehendakinya dan mengunci mati hati, penglihatan, pendengaran dari petunjuk iman bagi siapapun yang dikehendakinya pula. Dan kita tidak dapat memberikan petunjuk itu, melainkan atas kehendak Allah (saya tidak tahu detilnya, tapi sepertinya di sekitaran Al-Baqarah ada)

Makanya, sekeras apapun Nuh menyeru anaknya untuk menaiki bahtera (kapal) sebelum datangnya hujan dan kemudian banjir yang memporak-porandakan negeri, anaknya tetap tidak mau. Karena Tuhan tidak berkehendak datangnya petunjuk pada anak Nuh. Bukan berarti Tuhan Jahat juga sih, tetapi kembali pada iman, bahwa Tuhanlah yang Maha Tahu, Dia memiliki pengetahuan yang melampaui pengetahuan kita.

Kesimpulan
Intinya dengan iman, udah nurut aja deh apa yang udah digariskan baik sewaktu senang maupun duka atau kesempitan. Itu semua ujian maka jalani dengan sabar saja (tentu dengan usaha terbaik dan doa-doa) dan dan dan...gak perlulah sampai jadi gila, hhaha. Ikuti dan jalani dengan cara yang benar, kembali pada petunjuk hidup, Al-Qur'an. Kira-kira begitu. Namanya juga iman, iman itu memasrahkan dan percaya. Jika masih berontak dan merasa ini tidak adil, ini gak oke, No, No, No.... itu bukan iman. Tapi sepertinya, iya dan saya ingin terus meyakini bahwa Al-Qur'an adalah penyembuh dari kegilaan. Maka ajarkanlah al-qur'an itu pada diri kita sendiri dan siapa pun itu yang menjadi orang-orang terkasih diri kita.

Sungguh saya termasuk orang yang takut jika keinginannya tidak berjalan lancar, orang yang selalu takut hal buruk akan terjadi pada dirinya, orang yang takut gagal, orang yang takut miskin, orang yang takut hidup susah, orang yang takut memiliki penyakit ini-itu, orang yang takut menerima orang-orang baru dalam kehidupannya, orang yang takut disakiti, takut ditolak, takut akan masa depan, dan serba takut serta khawatir menghadapi hidup. Padahal kalau kembali pada Al-Qur'an tidak ada yang perlu ditakutkan, bahkan terhadap ketetapan terburuk pun. Kasih Tuhan meliputi segala-galanya pada diri kita dan hidup ini sementara. Mungkin saya termasuk orang-orang yang memiliki potensi besar untuk menjadi gila dengan mudahnya karena keadaan iman saya mengkhawatirkan, yang menjadikan saya tidak memiliki kesabaran dan gampang down karena mungkin sedikit saja rintangan, hahaha... Okey, I feel better now. Thanks God.
Hidup ini enggak gampang, maka jangan menggampangkan. Tetapi juga jangan terlalu takut. Semuanya sudah tertulis dan Tuhan Maha penyantun dan penolong terhadap hambanya, kan?

Maka berterimakasihlah pada
[55:1-6]
Tuhan yang Maha Pemurah,
Tuhan yang telah mengajarkan Al-Qur'an,
Tuhan yang menciptakan manusia,
Mengajarnya (manusia) pandai berbicara,
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan,
Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya...

BARU AGAK PAHAM
Mungkin, hm mungkin lho ini yang dimaksud Al-Qur'an itu sebagai obat penawar, sebagai cahaya...
Bahkan kalau begini ceritanya, menurut aku, kemampuannya mendahului penawar (kurasi). Al-Qur'an insyaallah sudah berhasil pada tahap prevensi yang akan mencegah seseorang jadi gila. Mungkin inilah yang oleh banyak alim-ulama dan sering disebut-sebut oleh MC saat pengajian, kita diajak bersama-sama mensyukuri NIKMAT IMAN ISLAM...Masyaallah....hahaha kemana aja, gueh?

Selama ini ternyata banyak kata-kata baik, banyak sudah petunjuk tetapi belum benar-benar terilhami. Hahaha...Benar, petunjuk itu datang dan jatuh begitu saja dari langit, tapi hati yang jernih, hati yang lapang, pikiran yang waraslah yang mampu menangkapnya. Dan iman yang dimiliki seseorang sama sekali bukan warisan keturunan dari seorang bapak/ibu yang beriman. Bapakku suka marah-marah terhadap aku yang suka sebegitunya dalam menghadapi hidup dan kadang mengataiku seperti orang yang tak memiliki iman. Lalu aku biasanya tersingung dan akan menjawab bahwa tuduhannya tidak berdasar karena aku melakukan ibadah ini dan itu dan yang diperintahkan lalu bagian mana aku tidak beriman. Kayaknya aku emang goblok. Hehehe, melakukan praktik-praktik ibadah memang bisa memproyeksikan keimanan seseorang tapi ini mengarah pada terminologi lain yang disebut takwa, yaitu menjalankan perintah Tuhan, menjauhi laranggan Tuhan. Kalau sebatas menjalankan perintah, menjauhi larangan tanpa dirasa-rasakan maknanya mungkin barulah takwa level surface, level permukaan, belum sempurna jika tanpa kesadaran iman. Mungkin begitu kali, ya?

Banyak orang meneliti berbagai variabel yang secara teoritis dianggap memiliki hubungan serta sumbangsih besar terhadap kebahagiaan serta kesehatan mental seseorang. Andai saja keimanan dapat dikonstruksi ke dalam sebuah alat ukur, aku sangat yakin keimanan memiliki korelasi postif dan signifikan terhadap kebahagiaan dan kesehatan mental seseorang. Tapi terlalu lancang bagi seorang, bahkan seseorang yang telah dianggapexpert sekalipun untuk menciptakan alat ukur serta mengukur keimanan seseorang karena hanya Tuhanlah yang berhak dan mengetahui dalamnya isi hati dari tiap-tiap manusia.

Selasa, 05 Februari 2013

[Just an] Acknowledgement

Menatap seluas-luasnya,
menyelam sedalam-dalamnya,
berdiri setinggi-tingginya,
Aku ingin!

Untuk bapakku, ibuku, dan adik-adikku aku persembahkan
Tempat segala kebaikan untuk pertama kali diajarkan,
Tempat segala kesalahan untuk pertama kali dimaafkan,
Tempat segala pengharapan, doa, dan restu terbaik dimohonkan,
Tempat segenap cinta dan penjagaan terbaik diberikan
Membesarkan hati, menyempurnakan setiap ikhtiar dari keinginan
Yang meski terkadang tidak sempurna, namun semoga bermakna 

Bismillaahirraahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil‘alamin, segala syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan yang mengajari kesabaran, Tuhan yang memiliki welas asih serta karunia maha luas berupa segenap pertolongan yang diberikan pada penulis, sehingga skripsi ini akhirnya dapat dirampungkan pada akhir tahun 2012. Skripsi yang penyelesaiannya hampir setahun ini tentu tidak lepas dari bantuan, dukungan, serta doa dari berbagai pihak. Dengan kerendahan hati, rasa hormat, dan kesyukuran, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
  1. Dra. Muhana Sofiati Utami, M.S, dosen pembimbing skripsi. Terimakasih untuk guru yang memiliki kebaikan hati serta kesabaran yang besar dalam membimbing dan mengantarkan penulis menjadi seorang sarjana psikologi. Tidak ada kebaikan yang tidak dibalas dengan kebaikan. Semoga penulis dimampukan untuk membalasnya dan jika tidak, Allah yang akan mencukupkan balasan kebaikan itu untuk ibu dan keluarga, Insyaallah, aamiin.
  2. Dra. Sri Kusrohmaniah, M. Si dan Dra. Aisah Indati, M.S, dosen pembimbing akademik. Terimakasih untuk bantuan, arahan, dan kepedulian yang diberikan pada penulis selama menjalani kehidupan akademik.
  3. Prof. Drs. Koentjoro, M.BSc., Ph.D. dan Dr. Dra. Nuryati Atamimi, S.U., dosen penguji skripsi. Terimakasih atas kebaikan, perhatian, serta saran dan tambahan ilmu yang meluaskan kepekaan pemikiran-perasaan penulis semata-mata untuk meningkatkan kualitas tulisan, maupun kualitas pribadinya.
  4. Segenap jajaran dekanat, dosen, karyawan, serta seluruh civitas akademika Fakultas Psikologi UGM untuk segala bantuan, ilmu, pengalaman, dan kepercayaan yang diberikan pada penulis selama menimba ilmu dan berkegiatan di fakultas.
  5. Segenap pegawai administrasi Sekretaris Daerah DIY, Dinas Sosial DIY, pekerja sosial, tim trauma center, dan para survivor kekerasan dalam rumah tangga Panti Sosial Karya Wanita Sidoarum Yogyakarta, serta seluruh konselor, staf, dan klien WCC Rifka Annisa yang berkenan terlibat untuk membantu penelitian ini mulai dari studi pendahuluan hingga pengambilan data penelitian.
  6. Keluarga H. Ir. Tri Setyo atas kebaikannya mengizinkan penulis dan adik-adiknya untuk nderek tinggal di rumah Karang Bendo sejak tahun pertama hingga tahun kedua dan Keluarga Wija Sasmaya yang mengizinkan kami menempati rumah dinas Plemburan sejak tahun ketiga hingga penulis menyelesaikan studinya.
  7. Seluruh teman, mas, dan mbak BKM gedung F, terutama Psikomedia dan KMP untuk kebersamaan dan pembelajaran yang membantu pengembangan diri serta wawasan penulis selama masa perkuliahan.
  8. Seluruh teman dan handai tolan: dika, seorang partner yang selalu dapat diandalkan sejak dulu kala; ika untuk setiap telepon, kunjungan, dan doa-doanya; tata dan mamanya untuk perhatian dan pengharapan baiknya; ira yang entah kenapa selalu saja muncul dengan sendirinya di saat-saat kritis dengan kata, pikiran, dan usaha terbaikya untuk membantuku, icha teman yang selalu punya banyak referensi tempat, event, makanan, film, buku, serta cerita-cerita untuk dicoba-coba; vivi, jihan, dori segala suasana ada saja yang kurang tanpa salah satu saja dari kalian, semoga segera bisa reuni dalam keadaan super sejahtera; mas hakim, day, mas aang, mas aceng, taqim, mbak kachan, mbak yuri, shiva, sekar, swarin, mbak anjar untuk setiap diskusi terkait penelitian ini; ardian, lei, kasog, om adit, mas abbiq, mbak tika, mbak lana, sasha, dek taufik, ratih, mira, yohan, rian, mas tiok, mas edwin, enggar, mail, udin, dan teman lainnya yang entah sejak kapan dan kenapa senang sekali menanyakan nasib kelulusan penulis, tapi dalam setiap pertanyaan itu penulis sungguh yakin terdapat doa-doa yang tulus dari teman-teman kepada penulis; yang paling special dan memang sengaja diletakkan di akhir, nistut, rarut, qonny, all kos-kosan blank-up 20, dek ika, dhanik, mita, intan, dan gegadis jayamaho lainnya makasih untuk sumbangan “kebahagian yang random” selama ini. Insyaallah, selalu beruntung kawan-kawan!
Demikianlah skripsi ini penulis susun. Tidak dipungkiri bahwa dalam karya tulis ini masih terdapat berupa-rupa ketidaksempurnaan. Saran yang mengarah pada penyempurnaan skripsi ini, penulis terima dengan lapang dan berbesar hati beserta dengan ikhitiar sebaik-baiknya untuk perbaikannya. Pun demikian, semoga bisa membawa kebermanfaatan, Amin.

Yogyakarta, Desember 2012
Penulis














Senin, 14 November 2011

07072011. KKN's dairy :)

Subuh di sini anginnya sembribit (semilir) 
Rerumputan masih berbau embun dan mulai menguap bersama terbitnya matahari
Ekstrak wangi rerumputan perlahan mengalir ke atas melewati celah-celah dedaunan pohon cengkeh yang pucuknya bersemi, berwarna oranye kemerahan, indah sekali, kemudian terus naik ke langit-langit bumi
Di mana-mana hanya kesegaran tanpa polusi. kontradiksi kehidupan urban. 
Ritmenya pun berbeda. Di sana ketukan detik menjadi begitu cepat, di jalan berdesak-desak, agenda menumpuk, dan tidak patuh jadwal sama artinya dengan bunuh diri. Sesak sulit bernapas sehingga mudah lupa, sering bingung, dan hobi marah-marah. Di sini segalanya slow motion, rasanya bumi berputar di bawah normal, santai, dan jazzy :p
Yang jelas, di sana- sini pepohonan perdu liar tumbuh, berbunga warna-warni tetapi lembut, tidak arogan dengan sekelilingnya (maksudku warnanya tidak mencolok, sederhana menyatu dengan sekeliling. keindahan yang tahu diri saya menyebutnya) Ukurannya pun kecil-kecil, komposisinya tidak beraturan alias semrawut tapi eksotis dan natural. Mencoba bertahan dari terpaan angin dengan melenggok ke sana ke mari sesuai tuntutan bayu, menari-nari, menggemaskan, tapi dipetik sungguh sayang
Anak-anak bertelanjang kaki berjalan, berjingkat, berjingkrak dan melompat kecil menuruni jalan berbatu tapi bersahabat, tidak akan melukai kaki dan mematahkan kuku kaki alih-alih menjadikannya semakin kuat saja setiap harinya, seiring bertumbuh mereka menjadi dewasa.Dewasa artinya tidak lagi memanggil mbok e dan pak e agar kebutuhan mereka tercukupi, tetapi melakukan sesuatu dengan cangkul, lahan, benih-benih sayur-mayur, dan aank-anak kambing atau sapi untuk diperah susunya atau sekedar mengikuti tradisi: paradigma saving. Ah, kenapa harus pusing, mereka makan daun ketela setiap hari saja sudah bahagia. 
Lagi pula diam-diam mereka punya displacement kekayaan dalam bentuk investasi tanah, ternak, dan panen apa yang mereka tanam di ladang (ehm, selama anak belum bertambah banyak dan anak belum beranak pinak sementara aman, tapi mungkin sampai keturunan ketiga tanah-tanah itu jadi sempit dirasa kalau mereka tidak segera migrasi. karena tanah habis dibagi-bagi dengan anak dan cucu)
Anak-anak berteriak renyah, suaranya masih murni, jiwanya masih asli dan selalu bergembira. mereka mencoba mencuri perhatian kami....Ini masih pagi, mari bergegas melakukan pekerjaan yang semestinya dikerjakan...Ini bukan rumah, tidak akan ada teh gratis seperti biasanya :)
(catatan harian KKN 07.07.2011)

Jumat, 14 Oktober 2011

My spirit box’s broken, I am Lost then I’m running home

Aku memperolehnya sebagai hadiah ulang tahun pertamaku. Benda ini aku gambarkan sebagai sebuah kotak yang memiliki banyak segi dan sudut-sudut yang berkilau seperti kristal, bercahaya, dan bening. Namun, kotak bukan bentuk aslinya. Dia selalu berubah-ubah dan tidak stabil. Kotak ini seperti bangun geometri, namun dimensinya selalu inkonsisten sehingga sulit diterka tinggi, luas, dan kedalamannya dengan pasti. Aku hanya suka menyebutnya kotak karena dia menyimpan sesuatu di dalalamnya yang bisa aku buka dan tutup kembali. 

Benda ini tidak pernah aku simpan dengan sengaja, tapi tidak pernah hilang juga. Selalu ada jika aku ada. Lama aku mengamatinya hingga belasan tahun bahkan hampir 20 tahun tanpa sepenuhnya mengerti apa arti eksistensinya padaku. 

Pernah aku mengalami hari yang tidak menyenangkan. Tiba-tiba aku menjadi frustrasi pada benda ini, jengkel melihatnya berada di sudut kamarku. Lalu aku mengambilnya kemudian ku simpan dan kunci di laci lemariku. Aku meninggalkannya untuk bermain di luar, tapi tiba-tiba ketika aku tiduran di rumput dan merogoh saku celanaku, aku menemukan dia di situ.

Lama-lama, aku merasa benda itu mirip diriku. Dia memotret semua warna, seting, perasaan, dan pikiranku dengan jelas pada setiap peristiwa dan pengalaman-pengalaman hidupku. Dia merangkum segalanya dengan persis, baik bentuk maupun sensasinya.

Ternyata benda ini namanya pun selalu berubah. Ketika aku bayi aku menyebutnya ayah dan ibu. Ketika aku balita,dia bernama kakek, nenek, adik-adikku, bulik dan omku, kata-kata, bebek-bebekku, ayam-ayamku, kambing-kambingku, kelinci-kelincikuku, ikan di kolam dan akuarium, kaset lagu anak dan tapeku, bintang-bintang di malam hari, sawah, sungai belakang rumah, musim kupu-kupu, pohon jambu samping rumah, serta kertas dan krayon. Ketika aku TK dia adalah teman-temannku, guru-guruku, anak-anak tetanggaku, sekolahku, pelajaran keterampilan, menulis, membaca, berdoa dan menyanyi, mainan-mainanku, petak umpet, puskesmas tempat bulikku bekerja, pasar, dan rumah sakit anak yang selalu aku kunjungi di setiap awal bulan. Semakin aku dewasa, semakin kompleks, molar, dan bertambah banyak namanya. 

Beberapa bulan ini aku tidak lagi intens dengannya. Bahkan sejak bulan sebelas tahun lalu aku sudah tidak terlalu peduli dengannya. Aku bahkan sudah mengiranya pergi atau mati. Entahlah dia sama sekali tidak bersamaku. Lama aku tidak pernah melihatnya lagi hingga di suatu pagi, ketika aku bangun tidur, dan kubuka pintu kamarku, aku kaget melihat kotak itu telah pecah. Kacanya berceraian di lantai. Ketika itu, aku sama sekali tak punya emosi, hanya menatap, tak punya kata, tak tahu apa yang harus kukatakan, aku ekspresikan, dan aku sungguh kehilangan seluruh emosiku, aku tak bisa merasakan apa-apa, dan aku bingung harus merasa bagaimana.

Aku hanya bisa menatapnya, sesaat, puluhan kupu warna-warni keluar dari kotakku yang pecah. Mereka pergi terbang keluar melalui jendela dan aku semakin kehilangan rasa, mereka mengemasi semua perasaan yang aku punya. Kudengar dari bisikan-bisikan mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkanku adalah mereka ingin hijrah, mencari rumah baru yang tak segersang rumahnya sekarang…

Dan aku kesepian. Aku kehilangan. Sekarang kotakku sudah pecah dan kosong, butuh waktu untuk memanggil kupu-kupu baru singgah ke dalam dan mengisi ruang-ruangnya sambil merekatkan retakan pecahan kacanya.

Rencanaku aku akan mulai menagkap kupu-kupu baru di rumah orang tuaku, di kamarku, di jalanan yang kulewati, di ruang-ruang kuliah, di mana pun itu. Semoga aku berhasil. Tapi, masalahnya aku benar-benar hilang arah. Sungguh. Bahkan jaring-jaring yang biasa kugunakan untuk menangkap kupu-kupu sudah tidak ada lagi dan aku sudah lupa bagaimana cara menangkapnya.

Mungkin aku harus menemui seorang guru untuk membesarkan jiwaku dan membantuku belajar kembali membuat jaring-jaring penangkap yang baru, cara berlari mengejar kupu-kupu, dan menjaganya. Aku baru saja ditampar dan ditampar ternyata lumayan sakit.