Senin, 14 November 2011

07072011. KKN's dairy :)

Subuh di sini anginnya sembribit (semilir) 
Rerumputan masih berbau embun dan mulai menguap bersama terbitnya matahari
Ekstrak wangi rerumputan perlahan mengalir ke atas melewati celah-celah dedaunan pohon cengkeh yang pucuknya bersemi, berwarna oranye kemerahan, indah sekali, kemudian terus naik ke langit-langit bumi
Di mana-mana hanya kesegaran tanpa polusi. kontradiksi kehidupan urban. 
Ritmenya pun berbeda. Di sana ketukan detik menjadi begitu cepat, di jalan berdesak-desak, agenda menumpuk, dan tidak patuh jadwal sama artinya dengan bunuh diri. Sesak sulit bernapas sehingga mudah lupa, sering bingung, dan hobi marah-marah. Di sini segalanya slow motion, rasanya bumi berputar di bawah normal, santai, dan jazzy :p
Yang jelas, di sana- sini pepohonan perdu liar tumbuh, berbunga warna-warni tetapi lembut, tidak arogan dengan sekelilingnya (maksudku warnanya tidak mencolok, sederhana menyatu dengan sekeliling. keindahan yang tahu diri saya menyebutnya) Ukurannya pun kecil-kecil, komposisinya tidak beraturan alias semrawut tapi eksotis dan natural. Mencoba bertahan dari terpaan angin dengan melenggok ke sana ke mari sesuai tuntutan bayu, menari-nari, menggemaskan, tapi dipetik sungguh sayang
Anak-anak bertelanjang kaki berjalan, berjingkat, berjingkrak dan melompat kecil menuruni jalan berbatu tapi bersahabat, tidak akan melukai kaki dan mematahkan kuku kaki alih-alih menjadikannya semakin kuat saja setiap harinya, seiring bertumbuh mereka menjadi dewasa.Dewasa artinya tidak lagi memanggil mbok e dan pak e agar kebutuhan mereka tercukupi, tetapi melakukan sesuatu dengan cangkul, lahan, benih-benih sayur-mayur, dan aank-anak kambing atau sapi untuk diperah susunya atau sekedar mengikuti tradisi: paradigma saving. Ah, kenapa harus pusing, mereka makan daun ketela setiap hari saja sudah bahagia. 
Lagi pula diam-diam mereka punya displacement kekayaan dalam bentuk investasi tanah, ternak, dan panen apa yang mereka tanam di ladang (ehm, selama anak belum bertambah banyak dan anak belum beranak pinak sementara aman, tapi mungkin sampai keturunan ketiga tanah-tanah itu jadi sempit dirasa kalau mereka tidak segera migrasi. karena tanah habis dibagi-bagi dengan anak dan cucu)
Anak-anak berteriak renyah, suaranya masih murni, jiwanya masih asli dan selalu bergembira. mereka mencoba mencuri perhatian kami....Ini masih pagi, mari bergegas melakukan pekerjaan yang semestinya dikerjakan...Ini bukan rumah, tidak akan ada teh gratis seperti biasanya :)
(catatan harian KKN 07.07.2011)

Jumat, 14 Oktober 2011

My spirit box’s broken, I am Lost then I’m running home

Aku memperolehnya sebagai hadiah ulang tahun pertamaku. Benda ini aku gambarkan sebagai sebuah kotak yang memiliki banyak segi dan sudut-sudut yang berkilau seperti kristal, bercahaya, dan bening. Namun, kotak bukan bentuk aslinya. Dia selalu berubah-ubah dan tidak stabil. Kotak ini seperti bangun geometri, namun dimensinya selalu inkonsisten sehingga sulit diterka tinggi, luas, dan kedalamannya dengan pasti. Aku hanya suka menyebutnya kotak karena dia menyimpan sesuatu di dalalamnya yang bisa aku buka dan tutup kembali. 

Benda ini tidak pernah aku simpan dengan sengaja, tapi tidak pernah hilang juga. Selalu ada jika aku ada. Lama aku mengamatinya hingga belasan tahun bahkan hampir 20 tahun tanpa sepenuhnya mengerti apa arti eksistensinya padaku. 

Pernah aku mengalami hari yang tidak menyenangkan. Tiba-tiba aku menjadi frustrasi pada benda ini, jengkel melihatnya berada di sudut kamarku. Lalu aku mengambilnya kemudian ku simpan dan kunci di laci lemariku. Aku meninggalkannya untuk bermain di luar, tapi tiba-tiba ketika aku tiduran di rumput dan merogoh saku celanaku, aku menemukan dia di situ.

Lama-lama, aku merasa benda itu mirip diriku. Dia memotret semua warna, seting, perasaan, dan pikiranku dengan jelas pada setiap peristiwa dan pengalaman-pengalaman hidupku. Dia merangkum segalanya dengan persis, baik bentuk maupun sensasinya.

Ternyata benda ini namanya pun selalu berubah. Ketika aku bayi aku menyebutnya ayah dan ibu. Ketika aku balita,dia bernama kakek, nenek, adik-adikku, bulik dan omku, kata-kata, bebek-bebekku, ayam-ayamku, kambing-kambingku, kelinci-kelincikuku, ikan di kolam dan akuarium, kaset lagu anak dan tapeku, bintang-bintang di malam hari, sawah, sungai belakang rumah, musim kupu-kupu, pohon jambu samping rumah, serta kertas dan krayon. Ketika aku TK dia adalah teman-temannku, guru-guruku, anak-anak tetanggaku, sekolahku, pelajaran keterampilan, menulis, membaca, berdoa dan menyanyi, mainan-mainanku, petak umpet, puskesmas tempat bulikku bekerja, pasar, dan rumah sakit anak yang selalu aku kunjungi di setiap awal bulan. Semakin aku dewasa, semakin kompleks, molar, dan bertambah banyak namanya. 

Beberapa bulan ini aku tidak lagi intens dengannya. Bahkan sejak bulan sebelas tahun lalu aku sudah tidak terlalu peduli dengannya. Aku bahkan sudah mengiranya pergi atau mati. Entahlah dia sama sekali tidak bersamaku. Lama aku tidak pernah melihatnya lagi hingga di suatu pagi, ketika aku bangun tidur, dan kubuka pintu kamarku, aku kaget melihat kotak itu telah pecah. Kacanya berceraian di lantai. Ketika itu, aku sama sekali tak punya emosi, hanya menatap, tak punya kata, tak tahu apa yang harus kukatakan, aku ekspresikan, dan aku sungguh kehilangan seluruh emosiku, aku tak bisa merasakan apa-apa, dan aku bingung harus merasa bagaimana.

Aku hanya bisa menatapnya, sesaat, puluhan kupu warna-warni keluar dari kotakku yang pecah. Mereka pergi terbang keluar melalui jendela dan aku semakin kehilangan rasa, mereka mengemasi semua perasaan yang aku punya. Kudengar dari bisikan-bisikan mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkanku adalah mereka ingin hijrah, mencari rumah baru yang tak segersang rumahnya sekarang…

Dan aku kesepian. Aku kehilangan. Sekarang kotakku sudah pecah dan kosong, butuh waktu untuk memanggil kupu-kupu baru singgah ke dalam dan mengisi ruang-ruangnya sambil merekatkan retakan pecahan kacanya.

Rencanaku aku akan mulai menagkap kupu-kupu baru di rumah orang tuaku, di kamarku, di jalanan yang kulewati, di ruang-ruang kuliah, di mana pun itu. Semoga aku berhasil. Tapi, masalahnya aku benar-benar hilang arah. Sungguh. Bahkan jaring-jaring yang biasa kugunakan untuk menangkap kupu-kupu sudah tidak ada lagi dan aku sudah lupa bagaimana cara menangkapnya.

Mungkin aku harus menemui seorang guru untuk membesarkan jiwaku dan membantuku belajar kembali membuat jaring-jaring penangkap yang baru, cara berlari mengejar kupu-kupu, dan menjaganya. Aku baru saja ditampar dan ditampar ternyata lumayan sakit.