Kamis, 23 Juni 2016

Jika Suatu Saat Kita Membangun Rumah

Jika suatu saat kita membangun rumah, aku ingin ia bukan hanya sebuah ruang-ruang atau tempat kita mengorganisasikan keseluruhan barang-barang kita. Ia boleh saja berukuran sederhana, lebih kecil dibandingkan dengan rumah-rumah masa kecil kita. Ia mungkin tidak pula memiliki halaman luas di depan ataupun belakang rumah di mana kita bisa menanam berbagai pepohonan berbuah, atau ia mungkin tidak cukup memuaskan untuk menjadi tempat anak-anak berlarian, tidak cukup lapang dan berangin untuk menerbangkan layang-layang, atau ia tidak memiliki kemampuan menciptakan gema teriakan suara kita seperti dahulu kita bisa melakukan eksperimen sederhana mengenai pantulan bunyi sewaktu sekolah dasar. 

Jika suatu saat kita membangun rumah, jika saatnya telah tiba, aku ingin ia memiliki jendela-jendela yang berukuran besar serta pintu-pintu lebar, sehingga cahaya matahari dan angin bebas bertamu ke rumah kita. Ia tidak memerlukan banyak tembok ataupun pintu untuk memisahkan tiap ruangnya agar kita merasa lapang di dalamnya. Ia mungkin tidak perlu ruang tamu ekslusif yang luas untuk para tamu kita, namun kita akan memiliki sebuah ruang keluarga yang terdiri dari banyak bantal berbagai ukuran, dengan karpet-karpet, dan mungkin juga beberapa kursi empuk. Di sana tempat kita berkumpul satu sama lain sebagai keluarga. Kita bisa mempersilakan siapapun untuk berkumpul bersama dengan kita dan anak-anak, baik mereka adalah keluarga, saudara jauh, rekan kerja kita, atau teman-teman masa sekolah kita dahulu. Di sana, kita tidak hanya bisa berbincang, berbagi cerita, nilai, perasaan, dan rencana-rencana baik. Di sana kita kadang dapat pula bertengkar, berebut remote televisi, meresapi kembali keluh kesah, saling berbagi tawa, air mata, harapan, dan juga pelukan.

Kita mungkin tidak membangun rumah kita dekat dengan keluarga, jauh dari rumah orang tua kita. Namun, kita akan memiliki sebuah tempat untuk meletakkan foto-foto keluarga kita--Ayah, ibu, adik, kakak, dan ponakan-ponakan kita--agar kita tidak pernah lupa dari mana kita berasal, agar kita tidak lupa ke mana kita harus selalu pulang, agar kita selalu tentram karena kita sesungguhnya tidak pernah sendiri sebab ada doa-doa yang konsisten yang mereka serta kita pun panjatkan untuk saling bertemu dan menenangkan setiap kegelisahan dalam dada. 

Di salah satu ruang rumah kita nantinya, kita mungkin memerlukan sebuah kotak P3K untuk memberikan pertolongan pertama bagi keluhan fisik. Sayangnya, aku bukan dokter ataupun ahli farmasi--aku tidak akan banyak bisa diandalkan untuk urusan ini. Meskipun demikian, aku telah pelajari beberapa obat dari bahan-bahan bumbu dapur yang aku akan pastikan mereka ada di kulkas. Kita pun akan memiliki perkakas pertukangan sederhana. Seperti katamu, kamu telah belajar memperbaiki kerusakan kecil di rumah terkait hal teknis, sementara aku akan bertugas memastikan masakan yang akan kita makan. Bukankah begitu pembagian yang dahulu sempat kita bicarakan? Namun mereka semua akan kita letakkan berdekatan. Mungkin kotak P3K yang masih kosong dapat kita isi dengan tolak angin dan berbagai jenis minyak gosok berbagai kasiat karena kita akan saling memijat atau mengerik saja ketika lelah dan masuk angin.

Jika suatu saat kita membangun rumah, jika saatnya telah tiba, kita tetap akan menanam pohon-pohon seperti di rumah masa kecil kita dahulu, sekalipun pepohonan yang kita miliki kini adalah pohon-pohon jenis sukulen (kaktus) dan pepohonan yang dapat diakomodasi dalam media tanam atau taman vertikal yang tidak begitu memerlukan lahan. Tidak apa jika kita tidak memiliki kebun bunga. Kukatakan, aku tidak masalah dengan bunga artifisial berbahan plastik atau bunga kering lainnya. Namun, aku yakin kita bisa memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam anggrek ataupun tanaman hias lainnya dengan rumput-rumput yang dapat kita letakkan dekat dapur, halaman rumah, atau dalam rumah kita agar aku selalu berseri-seri ketika aku dalam masa bersungut-sungut. Rumah kita akan cukup segar dan sehat dengan hadirnya pepohonan tersebut.

Pada dinding-dinding rumah kita nantinya, kita juga akan memasang beberapa lukisan baik dekoratif, potongan dari majalah, atau lukisan bapakku selain jam dinding, kalender, ataupun foto keluarga dan liburan kita bersama anak-anak. Kita tidak boleh kehilangan apresiasi terhadap karya seni, meski kita tidak perlu menjadi penikmat seni yang harus membelanjakan uangnya untuk kebutuhan tersier ini. Kita pun akan memiliki ruang untuk meletakkan rak-rak yang berisi penuh buku, gabungan buku-bukumu atau buku-bukuku dan buku-buku yang kita koleksi dengan menyisihkan uang untuk membelikan anak kita buku-buku favoritnya dari masa mereka kanak hingga remaja, bahkan dewasa awal nantinya. Buku-buku berisi hikmah, pengetahuan, dan hiburan.

Jika suatu saat nanti kita membangun rumah, jika saat itu tiba, aku ingin rumah kita di bangun di lingkungan masyarakat yang kondusif dan bersahabat. Sebuah lingkungan yang dapat mensubtitusi eksistensi keluarga kita, terdapat seorang yang dituakan untuk kita jadikan tauladan dan mintai nasihat, ada rekan-rekan yang siap sedia membantu dan bersuka cita untuk diandalkan, dan terdapat teman-teman sepermainan bagi anak kita yang juga dibesarkan oleh keluarga yang kaya akan nilai-nilai. 

Rumah kita nantinya akan dibangun di dekat pasar tradisional agar aku bisa mendapatkan keperluan sembako dan dapur dengan harga terjangkau dan berkualitas. Ia dibangun dekat masjid-masjid yang ramai atau tempat-tempat ibadah agar kita secara fisik tidak pernah jauh dari simbol Tuhan dan anak-anak dapat belajar mengaji di sana, dan kamu dapat mengajarkan anak laki-laki kita salat berjamaah di sana. Rumah kita akan dibangun di dekat akses transportasi yang mudah agar kita tidak selalu menggunakna kendaraan pribadi, agar kita banyak mengobservasi kejadian, bertemu banyak orang, sering bersosialisasi, tidak kaku, dan dekat dengan kunjungan teman atau saudara-saudara yang hendak berkunjung, agar kita tidak selalu merasa sepi.

Jika suatu saat kita membangun rumah nantinya, jika saatnya telah tiba, aku ingin ia bukan hanya sebuah ruang-ruang atau tempat kita mengorganisasikan keseluruhan barang-barang kita. Ia tidak hanya sebuah ruang pertemuan bagi kesibukan aktivitas kita, melainkan ditengah hidup kita masing-masing yang dinamis dengan produktivitas masing-masing--kamu, aku, dan anak-anak kita--rumah adalah tempat jiwa-jiwa kita bertemu dan disegarkan. Aku ingin ia penuh gelak tawa, penuh nilai-nilai kebaikan, tempat kesalihan kita pelajari dan ajarkan, serta sumber ketentraman dan kesejahteraan batin. Apapun yang terjadi nanti, kita perlu untuk selalu bahagia dan setia satu sama lain. 

Kita akan membangunnya dengan kesabaran, keyakinan iman, dan syukur karena sebelum saat itu tiba, bisa jadi kita adalah sepasang kekasih yang membangun rumah tangganya dalam kamar kos untuk keluarga, apartmen, tinggal di rumah kontrakan, ataupun masih menempati rumah sederhana yang sekian persennya masih kita usahakan untuk mencicilnya tiap bulan. Semoga Allah meridhloi rencana kita, memampukan diri kita membangun rumah untuk keluarga kita nanti. Semoga kita dapat masuk ke dalam orang-orang yang diberikan keberuntungan yang besar dan mampu bersuka-cita dalam melakoni tirakat untuk menjadi seseorang yang memiliki keberuntungan besar itu.

Senin, 10 Agustus 2015

It is not easy to be a Me (Human)

Tidak mudah memang menjadi manusia
Reinhold Niebuhr, teolog Amerika mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat naluri yang condong pada kebenaran, keadilan, dan kebajikan. Namun, pada diri manusia ada juga naluri primitif yang condong pada sifat rakus, buas, dan  mengabaikan nilai kebenaran

Tidak mudah memang menjadi manusia
Mitologi yunani menggambarkan manusia sebagai Hermes (kata sesorang, tapi gak yakin juga :p), manusia berkepala dua. Salah satu kepalanya tertawa terbahak-bahak, sementara kepala satunya lagi menangis tersedu-sedu

Tidak mudah memang menjadi manusia
Menurut Sigmund Freud, dalam konstruksi kepribadian diri manusia terdapat id (nafsu/setan), ego, dan super ego (hati nurani/malaikat), yang mana antara id dan super ego akan saling tarik menarik dan ego akan menjaga keseimbangannya

Tidak mudah memang menjadi manusia
Dia tidak hanya makhluk jasmani, tetapi juga rohani
Dia tidak hanya makhluk individu, tetapi juga sosial
Dia tidak hanya hidup sebagai manusia, tetapi juga makhluk hamba Tuhan
Belum lagi peran-peran dan statusnya yang spesifik dan kompleks

Tidak mudah memang menjadi manusia,
Al-Quran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik kejadian, tetapi mereka juga bisa terlempar ke kubangan kehinaan yang serendah-rendahnya. Mereka adalah khalifah di bumi, yang memelihara dan menjaga bumi, tetapi juga rentan terhadap nafsu dan godaan iblis. Sedangkan Al-Kitab menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari citra Allah, yaitu semulia-mulianya makhluk, tetapi karena kebodohannya sendiri mereka terdepak dari surga.

Tidak mudah memang menjadi manusia
Entah Plato atau mungkin Aristoteles  menyebut manusia sebagai binatang berakal, animal rationale
dengan akalnya iya mampu menjadi "binatang" yang berharga, bermanfaat, dan berbudi sehingga semakin meningkat derajat, harkat, martabatnya. Atau mungkin justru dengan akalnya, bisa membuat manusia menjadi binatang yang paling buas.

Tidak mudah memang menjadi manusia,
Manusia adalah makhluk yang dilematis
Manusia memiliki free will untuk menentukan dirinya sendiri
Baik atau buruk, benar atau salah manusia sendirilah yang menentukan, tetapi karena banyaknya peran, status, dan kepentingan manusia menjadi makhluk yang paradoks dan tidak jarang menjadi hipokrit.
Hasilnya adalah, memang tidak mudah menjadi manusia
Maka dari itu, manusia sudah harusnya terus berbenah tidak ada hentinya, karena pada dasarnya kejahatan dan kebajikan amatlah dekat dengan diri manusia. Manusia yang baik adalah berusaha terus berbenah dan menjadi lebih baik dan pemaaf terhadap kesalahan orang lain dan terhadap kesalahan dirinya sendiri pula. Karena manusia tempat salah pula yang perlu kita maklumi.

Ujian yang Gagal

31 Maret 2012 (Ketika Sedang Skripsi)

Kesimpulan kajian pagi ini adalah "bersegeralah berbuat kebaikan"
Kita perlu gunakan kesempatan untuk berbuat baik, selagi itu datang pada kita, karena tidak semua orang memperoleh kesempatan, bahkan hanya kesempatan untuk berbuat baik. Maka ketika kesempatan itu datang, janganlah ragu-ragu untuk berbuat kebaikan. Hidup hanya sementara, kehidupan kekal adalah akhirat dan untuk mempersiapkan kehidupan yang kekal bernama akhirat itu kita perlu mempersiapkan bekal.

Saya mengangguk-anggukan kepala diantara puluhan kepala yang ada di sana tanda bahwa saya telah paham maksud yang disampaikan ustadz. Lalu sempat saya meringis ngeri dan pikiran tiba-tiba takut mati menghampiri. Ada pikiran buruk kalau-kalau waktuku sudah dekat, kalau akhirnya mati sebelum tahun ini berakhir. Aku benar-benar takut dan sedih karena rasanya 3 bulan ini di tahun ini adalah waktu yang sangat krusial. Saat ini skripsi belum selesai. Ya, paling tidak kalau aku mati jadikanlah aku lunas dengan tanggung jawabku. Tanggung banget kalau hidupku berakhir sebelum skripsi selesai berasa ada tanggungan yang belum tuntas, padahal udah bayar SPP dan BOP (lagi) semester ini karena perpanjangan skripsi. yaaa paling tidak mati sarjana lah (astaghfirullah)...

Pengajian pun usai, aku sarapan, pergi ke toko buku, membeli buku yang relatif murah (belasan ribu saja), pulang, membaca buku itu sampai khatam, tidur siang, dan makan enak. Dan seperti biasan aku lupa dengan semua kajian yang aku dapat pagi ini. Tapi Tuhan tidak pernah lupa T____________T. Aku pun dites oleh-Nya dan aku pun gagal (lagi-lagi), sekarang aku menyesal. Aku malah sudah berbuat buruk pada bapak dan ibuku, sekarang mereka pulang ke rumah, aku ditinggal sendirian, aku menyesal tapi sesal memang selalu datang belakangan. Semoga masih ada kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan. Aku menyesal, aku kecewa dengan diriku sendiri. Waaaa, bodoh sekali! Kenapa aku tidak pernah sungguh-sungguh dewasa dan sabar, kenapa aku tidak bisa mengalah. Tuhan, Allah, Please, beri aku kesempatan sekali lagi agar aku tidak penasaran. Besok lagi aku harus mampu mengamalkan gak cuma paham-paham aja. Beri kesempatan ya Allah, beri kesempatan ya Allah, beri kesempatan ya Allah dan bantulah aku mengamalkan. HAMASAH! (ketoke artine adalah SEMANGAT). Tolonglah aku untuk memperbaikinya, beri kesempatanlah, dan mudahkan kedepan untuk selalu ingat.

L-O-V-E, LO-VE, LOVE

11 Apri, 2012

I can't sleep then I start to read:
Tidak cukup hanya mencintai dengan berkata, " Aku cinta kepadamu," melainkan seseorang juga harus mampu berucap, "di dalam dirimu, aku mencintai semua orang dan melalui dirimu, aku mencintai seluruh dunia, bahkan di dalam dirimu aku mencintai diriku sendiri (Erich Fromm,1956)

I can't sleep then I start to think:
Physical attractiveness  memang tidak bisa dipungkiri menjadi determinan eksternal dalam menuntun kita memutuskan menyukai,bahkan secara ekstrem, mempengaruhi keputusan untuk menikahi seseorang. Akan tetapi, cinta yang paling tidak dapat dipercaya adalah cinta erotis. Passion, gairah, hasrat  tidak dipungkiri menimbulkan kenikmatan, kesenangan, dan candu dalam bercinta, tapi tidak selamanya ada. Cinta tidak melulu didominasi komunikasi yang seksual dan sensual. Bahwa ketulusan, kebaikan, kesantunan, dan kesungguhan, serta kematangan dalam berkomitmen seorang laki-laki adalah yang utama. Bukan berarti menolak terhadap daya tarik fisik atau seksual. Itu memang diperlukan, tetapi tidak ultimate. Atau orang dengan diplomatis sering mengatakan, "Dia tidak perlu menarik, cantik/ganteng di mata orang-orang, tetapi dia harus cantik/ganteng di mataku" Hal ini menekankan mengenai faktor subjektivitas dan relativitas daya tarik itu.

I can't sleep then I start to wish:
Betapa beruntungnya wanita yang sudah mantap dengan dirinya, punya pendidikan dan pekerjaan yang baik, cukup berkembang dan beraktualisasi diri. Di tengah semuanya itu, datang seorang laki-laki yang serius ingin membangun hubungan dengannya. Laki-laki yang bertanggungjawab, laki-laki yang berhati kuat (kau melihatnya dari caranya menghadapi krisis dalam hidupnya) dan penyanyang. Serta lelaki yang menginginkanmu, mendukungmu tumbuh dan berkembang menjadi diri dan pribadi yang kau inginkan, menjadi pendampingnya, dan pada akhirnya menjadi ibu dari anak-anaknya (jika beruntung). Dia tidak pandai berbasa-basi atau melakukan negosiasi perasaan dengan baik denganmu dalam masalah perasaan ini. Dia sudah memutuskan, walau bersamamu berisiko untuk mendapat susahnya maupun bahagianya.  Dia juga punya selera humor yang lumayan jadi dia selalu punya cara membuat stand up comedy untuk hidup yang memang tidak selalu mulus. Dia tidak suka mengeluh, dia memang sederhana, tapi dia sama sekali tidak bodoh. Dia punya reputasi yang baik dalam meredam kebimbangan, keraguan kehidupan bersama Tuhan. Dan laki-laki ini berbuat baik dengan bapak,ibunya serta saudaranya.

Ya mungkin saat ini, sulit dipercaya. Dia hanyalah seorang bujang dan wanita itu bukan seorang yang bijak, berantakan, dan memiliki antusiasme yang bahkan random. Kalau dilihat-lihat masih banyak yang perlu diperbaiki di sebelah sana dan sebelah sini. Mungkin saat ini baru ada cerita-cerita yang kadang membosankan dan itu-itu saja, gaya bercerita dan menanggapi yang sejak dulu dipertahankan walau jadul. Akan tetapi, keintiman emosi terkadang muncul dari hal-hal sepele itu dengan gampangnya dan di luar kendali pelakunya. Ini bukan rencana dan reka-reka sejak awal. Dan dia seolah mengerti bahwa semua proses ini butuh waktu, tahu persis bahwa perasaan ini tumbuh membutuhkan kesabaran, dan tidak ada yang boleh tergesa-gesa dengan ini. Semuanya serba begitu saja, mudah, dan berjalan dengan baik dan tentu saja benar. Keduanya adalah orang yang biasa-biasa saja, tidak memiliki banyak hal yang spesial, tidak membanggakan apapun, tapi cita-cita baik itu ada dan harapan menjadi orang yang beruntung itu pun selalu ada.

Hahaha, beginilah ceritanya, memang suatu saat itu akan datang juga cepat atau lambat. Benar cepat atau lambat, akan datang juga. Saat ini atau nanti sama saja. Jika tiba saatnya, segera dan buatlah keputusan tanpa ragu-ragu.

Mengobservasi Hujan

Dulu aku menulis ini pada awal Juni 3 tahun yang lalu,
Untuk seseorang yang sempat dekat dan aku menaruh hati padanya
Aku bahagia karena sebentar lagi, kau akan menghujani dan membasahi lahan yang tepat, Lahan impianmu, sementara aku di sini sudah berteduh dan berbahagia dengan hujan yang lainnya :')


Di seberang jalan sana, aku melihat hujan berjalan mondar-mandir saja
Di seberang jalan sana, aku melihat hujan taktentu arah jatuhnya, taktentu intensitasnya
Beberapa kali tampak ia menyebrang ke arahku, tetapi belum mengenai sisi di mana aku berdiri, ia malah kembali menepi di seberang jalan sana.
Maka aku tutup payung yang tadi aku bentangkan dan kuselipkan lagi di balik tas
Aku melanjutkan berjalan di sisi sebelah aku tadi berdiri dan hujan masih gemericik di seberang jalan, bahkan membuat beberapa genangan di jalan aspal berlubang seberang jalan itu.
Tiba-tiba, aku mendengar suara hujan menjadi begitu dekat, tetapi saat aku alihkan pandangan ke seberang jalan, hujan sudah tidak berjalan-jalan di situ. Aku menengok ke belakang karena aku merasa dia semakin begitu dekat saja dan suara langit bergemuruh di atas kepalaku. Ia mengikutiku, persis di belakangku. Jalanan dan rerumputan di sepanjang jalan yang aku tinggalkan, basah sudah.
Maka aku pun berhenti, jika memang hujan menginginkan aku, dia akan menangkapku dalam kebasahan
Namun hujan pun berhenti persis di belakang kepalaku, ia jatuh di situ saja.
Aku menunggu dan menunggu terus, tapi sejak tadi ia hanya terus-terusan di situ,tepat di belakangku. Menyentuh kepalaku pun saja tidak. Rasanya ia tidak sungguh-sungguh. Maka aku pun kesal dan berlari menuju sebuah mini market, ia mengikutiku tapi aku enggan peduli. Aku masuk dan hujan pun mengantarku sampai depan pintu.
Kulihat kaca pintu mini market yang berembun, maka aku gesekkan jari telunjukku ke situ, aku memulai membuka percakapan antara kita. Dengan lapang dada, aku tuliskan, " Hujan, mampirlah nanti sepulang aku dari sini. Aku akan memakluminya. Mungkin kita ingin saling bicara?" (aku berharap hujan tidak buta huruf!)

~Awal April~

dari bejuta-juta hujan yang pernah turun dalam hidupku, kau berbeda
berjuta hujan kudiamkan,
berjuta hujan kubiarkan berlalu, aku takpeduli.
beberapa yang lain sering aku kutuk karena menyebalkan sungguh: membuat aku basah, membuat sepatuku basah, membuatku membatalkan janji, becek, berisik, dan dingin

tapi sekarang berbeda, aku berpaling padamu
ada sebuah simpati padamu (kurang lebih begitu)
tidak pernah aku lihat hujan turun dengan ragu-ragu
tidak pernah aku dengar hujan bergemericik cemas dan tergesa
hujan bulan April : turun seperti hujan yang tersesat di musim kemarau

Satu dua kata terucap. Aku pikir itu kata asal yang mungkin telah kau coba persiapkan, tapi kamu pun sungguh tidak begitu peduli dengannya dan apa tanggapanku nantinya. Yang kutangkap kau mencoba menjadi seperti dirimu, hujan, basah. Pun demikian, kamu ingin aku bis terlibat dan bercakap denganmu.
Lama aku amati, terus aku dengarkan dan aku memang tidak mengenalmu. Seakan kita memang tidak merencanakan ini, tidak peduli apapun yang kau bicarakan, tidak peduli bagaimana tanggapanmu. Kita terus saja saling cerita dan menanggapi. Aku hanya tidak ingin pergi, kurasa kau pun begitu. Aku tidak tahu apa yang menahanku. Mungkin ceritamu, tapi tidak juga. Demikian pula dirimu enggan untuk berhenti. Kita sudah lama di sini dan kita sungguh belum pergi dari sini. Tapi meski banyak sudah bercerita kamu hanya menceritakan dirimu, aku pun hanya membicarakan diriku untuk basa-basi di awal agar terlihat sopan. Lalu kapan kita membicarakan kita? iya, kita. kita adalah aku dan kamu.
uups, tiba-tiba itu terlintas saja di pikiranku. Ada yang salah ya rasanya. Iya aku tahu. Tapi sungguh aku tidak bisa melihat kau pun begitu. Sulit sekali ya? Hha, aku tetap saja tidak mengenalmu.

Setengah mati aku ingin bilang:
sebelum saatnya kita saling membuka diri,
sebelum kita saling mengucap kata
sebelum kita mulai lebih akrab
jika kau mau, tunggulah sebentar, aku punya sesuatu yang pahit, sedikit kopi untukmu dan untukku
lalu akan aku buatkan kopi untukmu dari cangkirku
dan akan aku seduh kopiku dengan cangkirmu
agar engkau tau rasanya menjadi aku
dan agar aku tahu rasanya menjadi hujan
(ah, tapi cuma tertahan di tenggorokan, aku tidak bernyali)

Kisahnya tergantung ya...
Sungguh-sungguh depends on...

Ah, hari sudah agak petang dan aku yakin kaupun sudah bosan menjadi hujan seharian dan aku bisa-bisa masuk angin kalau kelamaan denganmu. Ayo pulang!
Kita tunggu saja pelanginya. Tapi asal kau tahu saja, dari ratusan hujan yang pernah turun dalam hidupku, aku sudah banyak belajar bahwa pelangi takselalu muncul seusai hujan. Aku tidak mudah untuk kecewa.

diakhiri lagu I will Always Love You

And I...Will always love you
I Will always love you.....
I hope life treats you kind 
And I hope you have all you've dreamed of 
And I wish you joy and happiness 
But above all this I wish you love....

Minggu, 09 Agustus 2015

Menulis lagi

Bagus tidaknya tulisan bukan dinilai dari kekuatan atau kemampuannya untuk meyakinkan. Berhasil tidaknya tulisan dinilai dari kekuatan kemampuamnya untuk membuat Anda terlibat, berpikir, serta memberi kilasan mengenai isi kepala orang lain--bahkan jika pada akhirnya Anda simpulkan bahwa kepala orang lain itu bukan tempat yang Anda ingin datangi
well said, Malcolm Gladwell, my favorite writer.

Benar, menulis adalah mencoba membuat kajian atas objek atau isu dengan perspektif yang takterbatas. Bisa fiktif maupun nonfiktif, objektif maupun subjektif pada substansinya. Membaca tulisan-tulisan adalah berpetualang atau berwisata pada isi kepala orang lain.


Aku akan mulai menulis blog lagi, untuk sarana semacam ziarah dari gagasan atau pandangan pribadiku dari waktu ke waktu.

Minggu ini, beberapa tulisan lampau dari berbagai tempat akan aku pindahkan ke sini. Biar lebih terintegrasi dalam menilik perkembangan interest dalam hidupku. Baik isu dalam ranah umum, maupun mungkin personal.

Selamat kembali menulis blog, hehe

Anyway, tinjauan psikologis pun mendukung bahwa kegiatan menulis menyehatkan, bahkan direkomendasikan. Terlepas dari apapun bunyinya. Lebih lagi, menulis ekspresif maupun naratif dapat menyembuhkan (menjadi terapi) bagi berbagai masalah psikis mulai dari menghadapi kematian, hingga membangun citra diri yang lebih positif. Karena beyond teknis, menulis tidak hanya proses beradunya huruf menjadi kata, kemudian menjadi rangkaian kalimat-kalimat yang dipaparkan. Akan tetapi, proses dari kita me-recall kejadian atau pengetahuan, merekonstruksi ulang pengalaman dan informasi (termasuk mengoreksi pengalaman), kemudian menjadikannya bermakna.

Oke, berasa jadi orang jual kecap jadinya (e pada "kecap" dibaca seperti pada kata "benar" a.k.a jual omongam hhe). Kita sudahi saja tulisan pembuka ini.

Jumat, 08 Februari 2013

Sebuah Perjalanan di Akhir Tahun 2012

Ya Tuhan, Aku tertawa kecil, hanya diriku yang tahu bahwa aku sedang tertawa, mungkin ini yang dinamakan bahagia dan bahkan angin pun kurasa tidak mampu menangkap bahwa pipiku menegang, bersemu merah sore itu. Aku benar-benar, mungkin bahagia--Ya, bahagia yang kesekian dari kebahagiaan-kebahagiaan biasanya--God, thank you very much. Aku tidak mampu menjelaskannya melalui kata, warna, dan emosi yang aku miliki. Rasanya itu.....Ah, seperti ratusan biji yang bersemi, ratusan kuncup yang berbunga, ratusan cericit anak burung yang menyambut matahari dan kedatangan induknya, ratusan kawanan burung yang pulang ke rumah di pepohonan puncak bukit atau pinggiran hutan di kala senja, ratusan cahaya yang kehangatannya menerobos melalui celah-celah, siutan angin yang terus bergerak merendah menjumpai dataran-dataran rendah, namun membawa kerinduan pada pegunungan, dan berkubik-kubik aliran air di anak-anak sungai yang girang dan terus bergerak karena merindukan samudera. 

Semua tanggungan telah aku tunaikan sebaik-baik kemampuanku. Aku akan berkemas, itu yang aku tahu, untuk sebuah perjalanan yang tentu tidak akan selamanya, bahkan terlalu singkat. Tapi perjalanan ini lain, aku merasakannya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ini tidak akan berhenti di sebuah kota dan kemudian berlanjut ke kota-kota berikutnya. Perjalanan ini juga bukan sekedar menemui manusia-manusia yang sudah lama aku kenal dan baik padaku yang bernama teman-handai tolan, atau saudara. Di tiket itu bertuliskan bahwa jadwal keberangkatan kereta yang akan membawaku adalah pukul 20.00 WIB. Aku mengambil uang seperlunya. 

Aku pun lalu membuka buku paling tabu yang lama aku benci dan sembunyikan di bawah kolong tempat tidur. Aku membacanya kembali: sebuah rencana yang telah lama membuatku merasa ketakutan sendiri, yang dulunya aku tulis dengan perasaan yakin gak yakin. Tiba-tiba aku sinis pada diriku sendiri, ah, aku sangat yakin bahwa aku selama ini hanya ikut-ikutan atau sekedar terprovokasi buku-buku atau cermah orang-orang yang mengatakan bahwa kita perlu menuliskan dan merencanakan mimpi dan cita-cita kita sampai sedetil-detilnya. Aku mencoba melakukan review terhadap jalannya hidupku sesuai dengan yang aku tuliskan di buku itu dan hasilnya: TARA...beberapa target berhasil aku capai, beberapa target juga gagal aku capai, pun ada juga target-target di luar harapan dan rencana yang justru dicapai. Sudahlah, aku menilai menulis apa yang kita targetkan sampai detil itu tidak terlalu penting, yang terpenting aku tahu tujuan besar dari hidupku. Bukankah selama ini, baik kegagalan, keberhasilan, dan pencapaian yang tidak disengaja itulah yang menjadi jalan dan mengantarku pada tujuan yang terpenting dalam hidup nantinya. Maka aku menjadi tidak mudah bersedih hati menerima ketidaktercapaian keinginan, dan mudah merasa wajar dan tidak mudah terheran-heran dalam menerima kejutan-kejutan hidup. Lalu sesekali aku menyesal bahwa aku sudah banyak bersedih untuk kegagalan-kegagalan kecil dan melupakan hal-hal yang sama sekali tidak kecil yang pernah aku raih, bahkan sama sekali tidak pernah aku pikirkan akan aku raih. Harusnya aku dahulu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hari ini. Lalu diam-diam aku berjanji dalam diri: mulai sekarang aku tidak akan terlalu mengkhawatirkan masa depan!

Satu, dua barang masuk ke ransel. Semua sudah hampir terkemasi. Mungkin sudah ada yang menungguku di sana, entah siapa saja, entah apa saja. Lalu aku menuliskan beberapa tujuan hidupku yang lebih jelas daripada sebelumnya pada salah satu halaman di buku itu. Aku menulisnya dengan menyebut nama Tuhan agar aku sadar untuk bisa menerima apapun nanti hasilnya. Puluhan wajah terbayang: bapak; ibu; adik-adikku; teman-teman; manusia-manusia baik selama ini yang banyak membantu dan menginspirasi, puluhan kejadian terbayang, puluhan cerita-cerita terbayang. Satu, dua, tiga, empat, lima hal aku tuliskan sebagai pengharapan baik untuk diusahakan mulai dari sini, dimulai dari perjalanan ini yang entah akan membawaku ke mana saja, menjadikanku bertemu manusia-manusia baru seperti apa saja, dan mengalami kejadian-kejadian apa saja nantinya. Aku menyebutnya sebagai proyek pribadi, tidak ada yang "wah" di dalamnya, tapi rasa-rasanya aku akan menyukainya.

Maka aku mengawalinya di sebuah harii yang telah ditentukan. Aku duduk di kereta yang akan membawaku ke sebuah "kota permulaan untuk segalanya" dengan hati mantap dan memeluk rencana-rencana hidup yang penuh lompatan kejutan di dalamnya. Aku memangkunya dengan tenang, tetapi rencana di balik waktu, tempat, manusia yang akan aku temui, dan seluruh kejadian yang diatur Tuhan, sama sekali tidak sedang diam dan tenang. Mereka terus bergerak mengikuti yang sudah dgariskan. Semoga semuanya membawa pada kehidupan yang lebih baik, bagi aku, kamu, dan kita semuanya. 

Terimakasih Tuhan, Terimakasih Tuhan, Terimakasih Tuhan untuk segalanya.
Bantulah aku dalam perjalanan ini, dimulai dari sini dan berlanjut pada perjalanan-perjalanan baik lainnya.
Perjalanan bukan semata-mata perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain,bukan pula perpindahan dari satu pengalaman atau pekerjaan yang satu ke yang lainnya, tetapi perjalanan yang paling esensi: peningkatan kualitas dan perbaikan pribadi, semoga :). Jika aku beruntung, dalam perjalanan kali ini aku akan menemukan seorang teman perjalanan dan dijadikan-Nya mudah mencapai tujuan dari banyakknya perjalanan yang akan ku (kami) tempuh.

Aku tidak pernah mengenal diriku sebaik Engkau mengenaliku. Aku adalah ciptaanmu, Engkau adalah Tuhanku. Maka berilah aku pertolongan dan petunjuk dalam perjalanan ini.