Jumat, 08 Februari 2013

Sebuah Perjalanan di Akhir Tahun 2012

Ya Tuhan, Aku tertawa kecil, hanya diriku yang tahu bahwa aku sedang tertawa, mungkin ini yang dinamakan bahagia dan bahkan angin pun kurasa tidak mampu menangkap bahwa pipiku menegang, bersemu merah sore itu. Aku benar-benar, mungkin bahagia--Ya, bahagia yang kesekian dari kebahagiaan-kebahagiaan biasanya--God, thank you very much. Aku tidak mampu menjelaskannya melalui kata, warna, dan emosi yang aku miliki. Rasanya itu.....Ah, seperti ratusan biji yang bersemi, ratusan kuncup yang berbunga, ratusan cericit anak burung yang menyambut matahari dan kedatangan induknya, ratusan kawanan burung yang pulang ke rumah di pepohonan puncak bukit atau pinggiran hutan di kala senja, ratusan cahaya yang kehangatannya menerobos melalui celah-celah, siutan angin yang terus bergerak merendah menjumpai dataran-dataran rendah, namun membawa kerinduan pada pegunungan, dan berkubik-kubik aliran air di anak-anak sungai yang girang dan terus bergerak karena merindukan samudera. 

Semua tanggungan telah aku tunaikan sebaik-baik kemampuanku. Aku akan berkemas, itu yang aku tahu, untuk sebuah perjalanan yang tentu tidak akan selamanya, bahkan terlalu singkat. Tapi perjalanan ini lain, aku merasakannya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ini tidak akan berhenti di sebuah kota dan kemudian berlanjut ke kota-kota berikutnya. Perjalanan ini juga bukan sekedar menemui manusia-manusia yang sudah lama aku kenal dan baik padaku yang bernama teman-handai tolan, atau saudara. Di tiket itu bertuliskan bahwa jadwal keberangkatan kereta yang akan membawaku adalah pukul 20.00 WIB. Aku mengambil uang seperlunya. 

Aku pun lalu membuka buku paling tabu yang lama aku benci dan sembunyikan di bawah kolong tempat tidur. Aku membacanya kembali: sebuah rencana yang telah lama membuatku merasa ketakutan sendiri, yang dulunya aku tulis dengan perasaan yakin gak yakin. Tiba-tiba aku sinis pada diriku sendiri, ah, aku sangat yakin bahwa aku selama ini hanya ikut-ikutan atau sekedar terprovokasi buku-buku atau cermah orang-orang yang mengatakan bahwa kita perlu menuliskan dan merencanakan mimpi dan cita-cita kita sampai sedetil-detilnya. Aku mencoba melakukan review terhadap jalannya hidupku sesuai dengan yang aku tuliskan di buku itu dan hasilnya: TARA...beberapa target berhasil aku capai, beberapa target juga gagal aku capai, pun ada juga target-target di luar harapan dan rencana yang justru dicapai. Sudahlah, aku menilai menulis apa yang kita targetkan sampai detil itu tidak terlalu penting, yang terpenting aku tahu tujuan besar dari hidupku. Bukankah selama ini, baik kegagalan, keberhasilan, dan pencapaian yang tidak disengaja itulah yang menjadi jalan dan mengantarku pada tujuan yang terpenting dalam hidup nantinya. Maka aku menjadi tidak mudah bersedih hati menerima ketidaktercapaian keinginan, dan mudah merasa wajar dan tidak mudah terheran-heran dalam menerima kejutan-kejutan hidup. Lalu sesekali aku menyesal bahwa aku sudah banyak bersedih untuk kegagalan-kegagalan kecil dan melupakan hal-hal yang sama sekali tidak kecil yang pernah aku raih, bahkan sama sekali tidak pernah aku pikirkan akan aku raih. Harusnya aku dahulu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hari ini. Lalu diam-diam aku berjanji dalam diri: mulai sekarang aku tidak akan terlalu mengkhawatirkan masa depan!

Satu, dua barang masuk ke ransel. Semua sudah hampir terkemasi. Mungkin sudah ada yang menungguku di sana, entah siapa saja, entah apa saja. Lalu aku menuliskan beberapa tujuan hidupku yang lebih jelas daripada sebelumnya pada salah satu halaman di buku itu. Aku menulisnya dengan menyebut nama Tuhan agar aku sadar untuk bisa menerima apapun nanti hasilnya. Puluhan wajah terbayang: bapak; ibu; adik-adikku; teman-teman; manusia-manusia baik selama ini yang banyak membantu dan menginspirasi, puluhan kejadian terbayang, puluhan cerita-cerita terbayang. Satu, dua, tiga, empat, lima hal aku tuliskan sebagai pengharapan baik untuk diusahakan mulai dari sini, dimulai dari perjalanan ini yang entah akan membawaku ke mana saja, menjadikanku bertemu manusia-manusia baru seperti apa saja, dan mengalami kejadian-kejadian apa saja nantinya. Aku menyebutnya sebagai proyek pribadi, tidak ada yang "wah" di dalamnya, tapi rasa-rasanya aku akan menyukainya.

Maka aku mengawalinya di sebuah harii yang telah ditentukan. Aku duduk di kereta yang akan membawaku ke sebuah "kota permulaan untuk segalanya" dengan hati mantap dan memeluk rencana-rencana hidup yang penuh lompatan kejutan di dalamnya. Aku memangkunya dengan tenang, tetapi rencana di balik waktu, tempat, manusia yang akan aku temui, dan seluruh kejadian yang diatur Tuhan, sama sekali tidak sedang diam dan tenang. Mereka terus bergerak mengikuti yang sudah dgariskan. Semoga semuanya membawa pada kehidupan yang lebih baik, bagi aku, kamu, dan kita semuanya. 

Terimakasih Tuhan, Terimakasih Tuhan, Terimakasih Tuhan untuk segalanya.
Bantulah aku dalam perjalanan ini, dimulai dari sini dan berlanjut pada perjalanan-perjalanan baik lainnya.
Perjalanan bukan semata-mata perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain,bukan pula perpindahan dari satu pengalaman atau pekerjaan yang satu ke yang lainnya, tetapi perjalanan yang paling esensi: peningkatan kualitas dan perbaikan pribadi, semoga :). Jika aku beruntung, dalam perjalanan kali ini aku akan menemukan seorang teman perjalanan dan dijadikan-Nya mudah mencapai tujuan dari banyakknya perjalanan yang akan ku (kami) tempuh.

Aku tidak pernah mengenal diriku sebaik Engkau mengenaliku. Aku adalah ciptaanmu, Engkau adalah Tuhanku. Maka berilah aku pertolongan dan petunjuk dalam perjalanan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar